• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

El Nino Sangat Kuat Mulai Ancam Ketahanan Pangan Global

Musim hujan tahun ini diperkirakan mundur ke November atau Desember dengan curah hujan lebih rendah.

by Prohealth
Kamis, 24 September 2026
A A
Godzilla El Nino Ancam Pertanian Indonesia, Ini Dampak dan Strategi Mitigasinya

Ancaman terhadap pangan global mulai menguat seiring fenomena El Nino yang kini memasuki kategori sangat kuat. Data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melaporkan, indeks Nino 3.4 pada 2 September 2026 telah mencapai +2,7°C (super/sangat kuat), sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak 1950.

Guru Besar Fakultas Pertanian sekaligus Kepala Biotech Center IPB University, Dwi Andreas Santosa mengatakan kondisi ini bukan hanya soal kekeringan. Fenomena iklim ini berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan dunia, sekaligus mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas hingga 2027.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

“Saat ini El Nino telah memasuki fase yang mengkhawatirkan, yaitu sangat kuat. Dampak paling kuat untuk Asia Tenggara diperkirakan terjadi pada akhir 2026 dan awal 2027,” ujarnya.

Dwi Andreas mengatakan, El Nino berdampak terhadap musim tanam. Ia memperkirakan El Nino kategori sangat kuat akan berlangsung hingga Februari 2027, sementara kondisi kuat hingga moderat dapat berlanjut sampai April 2027.

“Musim hujan tahun ini juga diperkirakan mundur ke November atau Desember dengan curah hujan lebih rendah. Akibatnya, musim tanam pertama berpotensi bergeser dan produksi padi pada 2027 berisiko kembali tertekan,” katanya.

Dengan demikian, ia mengatakan, persoalan pangan tidak hanya menyangkut harga saat ini. Tapi juga bagaimana memastikan pasokan tetap tersedia ketika dampak El Nino mulai terasa pada produksi pertanian.

Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan utama produksi dan perdagangan beras dunia. India, Thailand, Vietnam, dan Myanmar sebagai pemasok utama beras juga termasuk wilayah yang sensitif terhadap El Nino. Gangguan produksi di negara-negara tersebut dapat memberikan tekanan pada pasokan dan harga beras dunia.

Tekanan tersebut mulai tercermin pada pergerakan harga pangan global. Food and Agriculture Organization (FAO) dalam Rice Price Update mencatat, indeks harga pangan FAO meningkat dari 130,8 poin (Juli) menjadi 133,3 poin (Agustus).

Indeks harga beras FAO juga mengalami kenaikan dari 108,4 (Juli) menjadi 109,0 (Agustus), kenaikannya terutama disumbang oleh beras indika (beras yang dikonsumsi rata-rata masyarakat Indonesia) dari 110,8 (Juli) menjadi 112,2 (Agustus).

“Indonesia pun menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Di satu sisi, produksi padi pada 2025 meningkat 13,29 persen dan stok beras pemerintah mencapai level tertinggi. Namun, peningkatan produksi dan besarnya stok tersebut belum berbanding lurus dengan harga beras di tingkat konsumen,” tutur Dwi Andreas.

Harga beras medium di pasar tradisional, ia mencontohkan, terus meningkat. Dari Rp15.800 per kilogram pada Februari 2026, harga naik menjadi Rp16.370 pada Agustus dan mencapai Rp16.458 pada September 2026.

Menurut dia, salah satu persoalannya berada pada dinamika penyerapan gabah. Pada Januari–Juli 2026, surplus produksi mencapai 4,03 juta ton setara beras. Dari jumlah itu, sekitar 3,5 juta ton diserap Bulog sehingga hanya sekitar 0,5 juta ton yang tersisa untuk pasar.

Pada saat yang sama, harga gabah kering panen terus meningkat hingga mencapai Rp7.646 per kilogram pada Agustus. “Stok jumbo beras pemerintah tidak serta-merta mampu berkontribusi terhadap pengendalian harga di pasar,” katanya.

Ia menilai, tata kelola pangan perlu diperkuat, terutama melalui kebijakan berbasis data, perbaikan manajemen stok pemerintah, peningkatan elastisitas pasokan, serta penguatan kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta.

“Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi agar tekanan iklim dan pasar pangan tidak berkembang menjadi gangguan pangan yang lebih luas,” katanya.

Tags: el ninoFAOketahanan pangankrisis iklim
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.