Mighty Earth dan Satya Bumi meluncurkan laporan bertema “Mengambil Tindakan untuk Alam,” dalam COP CBD 17, Yerevan, Armenia. Laporan tersebut menyerukan rencana pemulihan yang mendesak dan terkoordinasi untuk Orangutan Tapanuli, yang kini hanya tersisa beberapa ratus individu di hutan Batang Toru, Sumatera.
Dalam laporan baru dari Mighty Earth dan Satya Bumi, Kode Merah untuk Orangutan Tapanuli, memperingatkan bahwa tanpa intervensi segera, kera besar terlangka di dunia, Orangutan Tapanuli akan menjadi spesies pertama yang punah di era modern, atau kurang dari satu dekade setelah para ilmuwan menemukannya sebagai spesies tersendiri di tahun 2017.
Laporan tersebut menyoroti posisi rentan orangutan Tapanuli di saat para delegasi dari seluruh dunia berkumpul di Yerevan, Armenia, untuk Pertemuan ke-17 Conference of Parties-Convention on Biological Diversity (CBD COP 17).
Konferensi ini akan melakukan tinjauan global pertama terhadap kemajuan kolektif dalam menerapkan kerangka kerja keanekaragaman hayati global (Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework), yang mencakup target utama untuk menghentikan kepunahan spesies (Target 4). Tema konferensi tahun ini adalah “Taking Action for Nature”, dan tidak ada kondisi spesies yang membutuhkan tindakan lebih mendesak daripada orangutan Tapanuli.
Orangutan Tapanuli diakui sebagai spesies terpisah dari orangutan Sumatera dan Kalimantan pada tahun 2017, dan menjadi spesies kera besar baru pertama yang dideskripsikan sejak tahun 1920-an. Orangutan Tapanuli hanya ditemui di hutan Batang Toru di Sumatera Utara.
Garis keturunan evolusinya membentang jutaan tahun yang lalu, tetapi kini masa depannya berada di ujung tanduk. Akibat berbagai ancaman yang ada, saat ini orangutan Tapanuli hanya tersisa sekitar 658 individu di alam liar, populasi yang sangat sedikit, bahkan dapat muat hanya dalam satu setengah pesawat Boeing 747.
Orangutan Tapanuli terancam oleh pertambangan, deforestasi, kerusakan habitat, dan badai siklon yang dahsyat, kelangsungan hidup mereka sangat mengkhawatirkan.
Amanda Hurowitz, Great Ape Lead Program di Mighty Earth, menyatakan hal ini adalah kode merah untuk orangutan Tapanuli, spesies di ambang kepunahan tanpa rencana pemulihan. Bahayanya sudah di depan mata, tetapi kepunahan bukanlah hal yang tak terelakkan.
“Masih ada kesempatan untuk melindungi populasi yang tersisa, memulihkan hutan yang rusak, dan mengamankan masa depan bagi spesies luar biasa ini. Namun, waktu untuk menyelamatkan mereka semakin sempit,” ujar Amanda.
Ia mengatakan sangat memungkinkan untuk mengembalikan spesies kera besar dari ambang kepunahan dengan rencana pemulihan yang terkoordinasi, seperti yang telah kita lihat pada gorila gunung di Afrika Tengah.
“Waktu untuk bertindak bagi Tapanuli adalah sekarang. Kita tidak boleh membiarkan salah satu kerabat terdekat kita lenyap dari muka Bumi di bawah pengawasan kita,” kata Amanda.
Profesor Serge Wich, dari Liverpool John Moores University, yang membantu mengidentifikasi spesies ini, mengatakan, “Ini akan menjadi kegagalan fatal bagi umat manusia, komunitas konservasi, dan pemerintah. Dengan semua pengetahuan dan uang yang kita miliki di dunia, jika kita tidak dapat menyelamatkan spesies karismatik seperti ini, apa harapan bagi semua spesies lain yang kita pedulikan?”
Profesor Jatna Supriatna, Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources, Universitas Indonesia, mengatakan, sejujurnya saat ini masih belum ada rencana pemulihan tunggal dengan target populasi, target habitat, dan pendanaan khusus. Kerja kolektif di lapangan telah dimulai melalui koalisi yang ada, termasuk kelompok kerja Batang Toru.
“Kita tahu kepunahan bersifat permanen dan tidak ada teknologi yang dapat mengembalikan suatu spesies. Tugas kita sekarang adalah memperkuat kolaborasi antar mitra, termasuk pemerintah, OMS (Organisasi Masyarakat Sipil), masyarakat, dan pelaku usaha. Penting untuk mengkoordinasikan upaya di lapangan guna mencapai tujuan konservasi dan pemulihan kita.”
Pada November 2025, Siklon Senyar menurunkan hujan lebih dari 1.000 mm selama empat hari dan memicu banjir bandang dan diperkirakan berdampak pada 50.000 titik tanah longsor di seluruh Sumatera Utara.
Bencana ini merusak lebih dari 8.300 hektar hutan di Ekosistem Batang Toru Barat, menghancurkan sekitar 11,7% tutupan hutan dan berpotensi menewaskan 58 orangutan Tapanuli hingga 58 individu atau setara dengan 7% dari seluruh populasi spesies tersebut.
Badai siklon tersebut menerjang spesies yang memang sudah dalam bahaya. Ruang hidup orangutan Tapanuli terisolasi hanya dalam area seluas 1.420 kilometer persegi di hutan hujan Sumatera Utara, area yang sedikit lebih kecil dari Greater London. Orangutan Tapanuli telah menderita kerugian habitat selama dekade terakhir, studi tahun 2021 memperkirakan populasinya telah anjlok sebesar 97,5% sejak tahun 1890.
Benteng pertahanan terakhirnya berada di bawah tekanan yang meningkat dari pertambangan, pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), ekspansi pertanian, deforestasi, dan perburuan. Proyek PLTA Batang Toru akan semakin memfragmentasi populasinya yang terisolasi, sementara tambang emas Martabe, yang dimiliki melalui konglomerat Inggris Jardine Matheson, telah melakukan perluasan ke arah utara menuju habitat orangutan.
Tekanan yang terus meningkat ini mengancam akan menghancurkan koridor vital hutan, mengisolasi populasi dan membahayakan kelangsungan hidup jangka panjang mereka. Salah satu dari ancaman ini saja sudah dapat membahayakan kelangsungan hidup orangutan Tapanuli. Ancaman tersebut telah mendorong spesies yang sudah berada di ambang batas ini ke dalam “perlombaan” melawan kepunahan.
“Kami menyerukan kepada komunitas internasional, yang berkumpul di sini di Yerevan di bawah banner “Taking Action for Nature” untuk menggunakan momen ini dalam membangun strategi perlindungan Orangutan Tapanuli, salah satu mamalia paling karismatik dan ikonik di Indonesia,” ungkap Sadam Afian Richwanudin, Juru Kampanye Satya Bumi.
“Dari deforestasi, bencana ekologis, hingga kebakaran hutan, populasi orangutan di Indonesia mengalami penderitaan terlalu banyak, dengan ketiga spesies-Sumatra, Kalimantan, dan Tapanuli yang berstatus terancam punah secara kritis (Critically Endangered),” katanya.
“Pemerintah Indonesia perlu memimpin langkah untuk membawa para pemangku kepentingan duduk bersama merencanakan masa depan bagi yang paling terancam, yaitu Tapanuli. Bagi mereka, tidak ada rumah kedua. Hutan Batang Toru adalah satu-satunya rumah mereka. Kita juga harus memastikan masyarakat lokal tidak tertinggal dalam upaya konservasi. Itulah mengapa kita harus memulihkan hutan mereka dan bertindak sekarang,” kata Sadam.
Meski laporan itu memperingatkan bahwa orangutan Tapanuli kini lebih dekat menuju kepunahan dibandingkan titik mana pun sejak diakui secara ilmiah pada tahun 2017, nasibnya belum sepenuhnya aman.
IUCN telah menyerukan moratorium atas proyek-proyek yang mengancam habitatnya hingga mengadopsi rencana manajemen konservasi. Mighty Earth menginginkan tindakan yang lebih jauh dan telah mendesak tindakan segera yang terkoordinasi dari pemerintah, bisnis, dan kelompok konservasi untuk menyelamatkan orangutan Tapanuli dari kepunahan.
Para ilmuwan percaya spesies ini masih dapat diselamatkan dan pengetahuan serta alat untuk menarik mereka dari ambang kepunahan sudah ada. Namun tanpa upaya bersama untuk melindungi dan memulihkan habitatnya serta membangun kembali populasinya, jendela waktu untuk bertahan hidup akan menutup dengan cepat.
Sesuai dengan tema “Taking Action for Nature” dari COP CBD 17, laporan tersebut menyerukan enam tindakan mendesak untuk menyelamatkan orangutan Tapanuli:
1. SURVEI TERBARU YANG MENDESAK: Menghitung orangutan yang bertahan hidup, menilai kerusakan habitat, dan mencari populasi yang belum terdeteksi di seluruh sebaran historis mereka.
2. HENTIKAN KERUSAKAN HUTAN DAN HUBUNGKAN KEMBALI AREA HABITAT: Hentikan deforestasi lebih lanjut dan pulihkan koridor hutan vital di antara populasi yang terisolasi.
3. BANGUN KEMBALI BLOK BARAT: Pulihkan secara mendesak habitat yang rusak akibat siklon di Batang Toru Barat melalui penanaman kembali dan regenerasi hutan secara aktif.
4. JADIKAN SETIAP ORANGUTAN BERHARGA: Cegah kematian lebih lanjut dengan menanggulangi perburuan, konflik manusia-satwa liar, dan ancaman dari pembangunan.
5. JADIKAN MASYARAKAT LOKAL SEBAGAI PUSAT PEMULIHAN: Libatkan masyarakat adat dan lokal dalam konservasi serta dukung mata pencaharian yang berkelanjutan.
6. DANAI PEMULIHAN–JANGAN HANYA MENGHINDARI KEPUNAHAN: Amankan pendanaan jangka panjang dan rencana pemulihan yang terkoordinasi untuk membangun kembali populasi, bukan sekadar mencegah kepunahan.

Discussion about this post