• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Tren Makan Mentega dan Margarin Langsung, Ingat Risiko Konsumsi Berlebih

Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi.

by Admin
Senin, 12 Oktober 2026
A A
Tren Makan Mentega dan Margarin Langsung, Ingat Risiko Konsumsi Berlebih

Tren mengonsumsi mentega (butter) dan margarin secara langsung dalam jumlah besar muncul di media sosial. Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Sri Anna Marliyati, menanggapi fenomena ini dan mengimbau masyarakat untuk tidak asal ikut tren tanpa memahami risikonya.

Menurutnya, mentega dan margarin merupakan sumber lemak yang padat energi, sehingga keduanya bukan termasuk pangan yang perlu dikonsumsi secara langsung dalam jumlah banyak.

BacaJuga

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Pemerintahan Klaim Peningkatan Cek Kesehatan Gratis dan Penanganan Tuberkulosis

“Margarin merupakan sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi,” katanya.

Meski demikian, ia menjelaskan, margarin tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai pangan yang buruk. Hal yang perlu diperhatikan adalah komposisi asam lemak, jumlah konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan.

Margarin lunak, terutama yang dibuat dari minyak nabati, umumnya memiliki proporsi lemak tak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan mentega yang mengandung lebih banyak lemak jenuh. Namun, kandungan asam lemak trans tetap perlu menjadi perhatian dalam memilih produk.

Karena itu, Sri Anna menyarankan margarin digunakan secukupnya, misalnya sebagai olesan roti atau untuk menumis sayuran. Penggunaan margarin dalam jumlah berlebihan pada makanan seperti martabak manis juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan asupan lemak dan energi.

Sementara itu, konsumsi mentega dalam jumlah besar sekaligus dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Kandungan lemak yang tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga seseorang merasa sangat kenyang, begah, mual, atau mengalami gangguan pencernaan tertentu.

“Makanan yang sangat berlemak juga merangsang kontraksi kandung empedu. Pada orang yang memiliki batu empedu atau gangguan kandung empedu, konsumsi makanan berlemak dapat memicu nyeri atau ketidaknyamanan pada perut,” katanya.

Selain efek jangka pendek, konsumsi makanan berlemak juga dapat meningkatkan sementara kadar lemak darah (trigliserida) saat setelah makan—kondisi yang dikenal sebagai postprandial lipemia.

“Jika pola konsumsi tersebut berlangsung berulang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lemak darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung serta metabolik,” katanya.

Sri Anna menjelaskan, pembatasan konsumsi mentega terutama perlu diperhatikan oleh individu dengan kondisi tertentu, yaitu gangguan kadar lemak darah (dislipidemia), penyakit jantung koroner atau risiko penyakit kardiovaskular tinggi, diabetes yang disertai gangguan lemak darah, obesitas, perlemakan hati (fatty liver), serta riwayat batu empedu.

Meski ada risiko tersebut, margarin dan mentega tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Kuncinya, menurut Prof Sri Anna, tetap kembali pada prinsip gizi seimbang: memenuhi kebutuhan energi, mengonsumsi protein berkualitas, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi gula, garam, dan lemak.

“Mentega dan margarin bukan makanan yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan makanan yang dibolehkan dimakan langsung dalam jumlah besar,” ujar Sri Anna.

Secara umum, asupan lemak dianjurkan sekitar 20–30 persen dari total energi harian, dengan mengutamakan sumber lemak tidak jenuh—bukan dengan mengonsumsi mentega atau margarin secara langsung dalam jumlah besar seperti tren yang beredar di media sosial.

Tags: Kesehatanlemak jenuhlemak tak jenuhmargarinmentega
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.