• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Bayi Prematur Selamat di Tengah Gempa Nagekeo

Demi menyelamatkan ibu dan bayi, operasi terpaksa dilakukan di dekat pintu masuk gedung yang masih dapat digunakan dengan keterbatasan alat medis.

by Prohealth
Kamis, 20 Agustus 2026
A A
Bayi Prematur Selamat di Tengah Gempa Nagekeo

Penyelamatan nyawa pasien dan penanganan trauma psikologis menjadi fokus utama pemerintah pascagempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Hal ini ditegaskan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat meninjau langsung pelayanan medis di Kabupaten Nagekeo, Selasa, 18 Agustus 2026, untuk memastikan penanganan korban tetap berjalan meski sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.

Berdasarkan Laporan Situasi (Situation Report) Kementerian Kesehatan, gempa mengakibatkan 70 korban meninggal dunia dan 43.391 warga mengungsi di seluruh wilayah NTT. Khusus di Kabupaten Nagekeo, sebanyak 170.669 jiwa terdampak, dengan rincian delapan korban meninggal, 13 luka berat, dan 29 luka ringan.

BacaJuga

Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Bencana juga melumpuhkan operasional dua rumah sakit utama, yakni RS Pratama Rajad dan RS Aeramo, serta merusak bangunan tiga puskesmas.

Menghadapi kondisi darurat fasilitas kesehatan, Menkes menetapkan tiga prioritas utama. Prioritas pertama adalah mempercepat identifikasi dan pelayanan medis melalui sistem triase dalam 3 hingga 5 hari ke depan. Pasien dalam kondisi kritis akan dirujuk langsung ke rumah sakit, sementara pasien dengan luka ringan ditangani di puskesmas atau tenda darurat.

“Tugas prioritas Kementerian Kesehatan saat tanggap darurat nomor satu adalah pasiennya, bukan fasilitas pelayanannya. Pasiennya nomor satu, sesudah itu baru nomor dua kita perbaiki fasilitas yang rusak,” kata Budi di Nagekeo.

Prioritas kedua adalah rehabilitasi infrastruktur fasilitas kesehatan yang rusak. Kemenkes menargetkan pembangunan maupun renovasi dapat rampung dalam 8 hingga 12 bulan ke depan.

Sementara itu, prioritas ketiga adalah penanganan trauma (trauma healing). Tingginya ketakutan warga terhadap gempa susulan mendorong Kemenkes menggandeng organisasi profesi untuk mendatangkan konselor ke NTT. Dalam jangka menengah, Kemenkes juga berencana menempatkan psikolog klinis di 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia secara bertahap.

Keterbatasan fasilitas akibat gempa tidak menghentikan upaya penyelamatan nyawa oleh tenaga kesehatan di lapangan. Saat meninjau ruang operasi lapangan, Budi berdialog dengan dokter Restu, seorang dokter bedah yang melakukan operasi sesar darurat (SC Cito) sesaat setelah gempa terjadi.

Terputusnya akses jalan dan jembatan menuju fasilitas rujukan memaksa Restu dan tim mengambil keputusan cepat. Demi menyelamatkan ibu dan bayi, operasi terpaksa dilakukan di dekat pintu masuk gedung yang masih dapat digunakan dengan keterbatasan alat medis.

“Waktu itu saya pertimbangkan rencana SC Cito, tapi jalur rujukan terputus. Jembatan rusak, jalan rusak,” ungkap Restu.

Keputusan darurat ini membuahkan hasil. Seorang bayi prematur dengan berat 1.500 gram berhasil lahir dengan selamat dan kini menjalani perawatan intensif di ruang perinatologi.

Untuk mencegah kendala serupa, Menkes memastikan ketersediaan alat medis esensial di rumah sakit lapangan Nagekeo. Distribusi mesin anestesi dan alat kauter untuk menghentikan pendarahan telah disiagakan agar tenaga medis dapat bekerja dengan lebih aman dan nyaman dalam menangani kasus kegawatdaruratan di lokasi bencana.

Tags: bayi prematurbudi gunadi sadikindoktergempa NTTkementerian kesehatan
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Bahaya Vape bagi Kesehatan, 35 Negara Melarang
  • Negara Hukum: Fatamorgana yang Makin Digilas Kuasa
  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.