• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Selasa, November 3, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Menerapkan Green Lifestyle lewat Pilihan Berpakaian

by Admin
Selasa, 3 November 2026
A A
Menerapkan Green Lifestyle lewat Pilihan Berpakaian

Sebagian besar orang, termasuk dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan mungkin sudah banyak yang peduli lingkungan. Namun, apakah kepedulian itu ikut terbawa saat membeli baju? Jawabannya, belum tentu.

Guru besar IPB University Ujang Sumarwan sebagai ahli perilaku konsumen, menjelaskan kesadaran lingkungan belum tentu sejalan dengan perilaku membeli pakaian. Alasannya bermacam-macam, mulai dari soal harga hingga terbatasnya pilihan produk.

BacaJuga

Konsesi Sawit Anggota RSPO Terdeteksi Terbakar, Geopix Desak Sanksi Tegas

WALHI: Karhutla Tak Tertangani, Penegakan Hukum Masih Sangat Lemah

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan belum konsistennya hubungan antara sikap dan perilaku. Idealnya, sikap positif terhadap lingkungan diterapkan dalam tindakan sehari-hari, termasuk saat memilih pakaian. Karena itu, perilaku membeli dan memperlakukan pakaian menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan green lifestyle dan green campus.

Isu lingkungan kini makin sering diperbincangkan, salah satunya soal limbah pakaian yang kian meresahkan. Namun nyatanya, kebiasaan belanja seseorang tidak otomatis berubah hanya karena satu hal: kepedulian.

“Ada beberapa faktor,” kata Ujang. “Pertama, harga pakaian ramah lingkungan relatif lebih mahal dibandingkan dengan pakaian berbahan konvensional. Kedua, pilihan pakaian ramah lingkungan mungkin tidak sebanyak pakaian berbahan konvensional,” jelasnya.

Dua hal itu, daya beli dan keragaman produk, kata Ujang, menjadi penghambat. Faktor lain adalah informasi. Pengetahuan tentang pakaian ramah lingkungan beserta jenisnya masih perlu disebarluaskan agar konsumen punya cukup bahan pertimbangan. Kebiasaan mengikuti tren juga perlu diperhatikan.

Soal baju yang tak lagi dipakai, Ujang menyarankan agar memberikan atau menyumbangkannya. Bisa pula dengan menjualnya kembali lewat pasar preloved, istilah yang menurutnya dipilih pegiat ramah lingkungan untuk barang yang “dicintai”.

Tujuannya, memperpanjang masa pakai pakaian dan bermanfaat bagi orang lain. “Saya sendiri diberikan kepada yang lain,” ujarnya.

Pakaian, kata Ujang, termasuk produk yang paling sering dibeli setelah makanan dan minuman. Oleh sebab itu, cara membeli, memakai, dan memperlakukannya perlu mendapat perhatian. Ia menyarankan perguruan tinggi, pegiat perlindungan konsumen, kementerian yang membidangi lingkungan hidup, dan perusahaan berkolaborasi dalam kampanye dampak lingkungan produk pakaian.

“Perguruan tinggi juga perlu mendorong pengembangan bahan baku pakaian yang lebih ramah lingkungan, dan desainer perlu memikirkan cara membuatnya tetap menarik. Edukasi diperlukan agar baju bekas tidak langsung menjadi limbah,” kata Ujang.

Green campus tidak hanya soal pohon dan fasilitas, tetapi juga kebiasaan sehari-hari seluruh warga. Sebelum membeli baju berikutnya, warga IPB University bisa mencoba: menimbang kebutuhan sebelum membeli, lalu menyalurkan baju yang tak terpakai kepada orang lain.

Atau, mencari tahu pilihan pakaian ramah lingkungan, serta memanfaatkan pasar preloved untuk membeli maupun menjual. Tak kalah penting, berbagi informasi tentang pakaian ramah lingkungan kepada rekan sejawat. “Semoga konsumen kita semakin sadar terhadap lingkungan,” tutur Ujang.

Tags: green life styleguru besarIPB Uniiversitykesadaran lingkungan
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Menerapkan Green Lifestyle lewat Pilihan Berpakaian
  • Rokok Kalahkan Belanja Gizi Keluarga, Pakar Ingatkan Anak Gagal Tumbuh
  • BRIN Teliti Potensi Temulawak sebagai Antibakteri
  • Penegakan Hukum Harus Tetap Menjamin Perlindungan dan Martabat Santriwati Anak
  • Konsesi Sawit Anggota RSPO Terdeteksi Terbakar, Geopix Desak Sanksi Tegas
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.