• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Mengupas Terapi Jantung Presisi ala Singapura

Alternatif seperti Ticagrelor atau Prasugrel memang lebih efektif menurunkan risiko serangan jantung berulang, namun berisiko meningkatkan pendarahan.

by Tim Prohealth
Rabu, 23 September 2026
A A
Lemak! Apa yang Kau Lakukan Padaku itu Jahat!

Ilustrasi sakit jantung. (Sumber: Canva/2025)

Dua pasien serangan jantung yang mendapat obat dan dosis persis sama, belum tentu merasakan hasil yang sama. Perbedaan kecil dalam gen bisa menentukan apakah obat itu bekerja optimal, atau justru menyimpan risiko tersembunyi.

Fakta inilah yang dibedah Assoc Prof Doreen Tan Su-Yin dari National University of Singapore (NUS) dan National University Heart Centre Singapore, dalam International Graduate Student Conference on Pharmaceutical Sciences (IGSCPS) 2026 yang digelar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR), Sabtu, 19 September 2026.

BacaJuga

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Pemerintahan Klaim Peningkatan Cek Kesehatan Gratis dan Penanganan Tuberkulosis

Konferensi ini mempertemukan mahasiswa magister farmasi dari berbagai kampus, baik dari dalam negeri maupun mancanegara di lingkup ASEAN, dengan Prof Doreen tampil membawakan topik Implementing Precision Cardiovascular Pharmacotherapy in Southeast Asia: Opportunities and Challenges.

Doreen mengawali paparannya dengan konsep precision health, pendekatan pengobatan yang tidak lagi menyamaratakan semua pasien. “Precision health pada dasarnya merupakan pendekatan pelayanan kesehatan yang tidak menerapkan pengobatan seragam bagi setiap individu. Pendekatan ini bertujuan untuk menentukan terapi yang tepat bagi individu yang tepat, pada waktu yang tepat,” katanya.

Pendekatan ini mempertimbangkan data genomik, riwayat digital dan klinis, gaya hidup, hingga faktor lingkungan dan keluarga. Ia mencontohkan sejumlah negara Asia, seperti Singapura lewat inisiatif SG100K, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, yang tengah aktif mendorong riset genomik masuk ke praktik klinis sehari-hari.

Menurut Doreen, cara pandang dunia medis kini bergeser, dari sekadar menangani penyakit, menjadi memahami pasien secara utuh. “Kita tidak dapat hanya berfokus pada aspek penyakit. Faktor psikologis, sosial, keluarga, dan budaya juga perlu menjadi pertimbangan karena seluruh aspek tersebut dapat memengaruhi respons pasien terhadap pengobatan,” ujarnya.

Salah satu contoh konkretnya ada pada gen bernama CYP2C19. Sebagian pasien dengan varian gen ini ternyata tidak merespons baik terhadap Clopidogrel, obat pengencer darah yang umum diberikan pasca-serangan jantung.

Alternatif seperti Ticagrelor atau Prasugrel memang lebih efektif menurunkan risiko serangan jantung berulang, namun berisiko meningkatkan pendarahan. Karena itu, penyesuaian dosis dan jenis obat berdasarkan profil genetik pasien menjadi krusial.

“Ini bukan lagi wacana. Di Singapura, penyesuaian obat berdasarkan gen sudah masuk praktik nasional sejak 2022. Setelah perjalanan panjang sejak uji coba pertama pada 2013,” kata Doreen.

Sebagai solusi atas kesenjangan layanan pasca-serangan jantung, Prof Doreen memperkenalkan program AMI-HOPE, program pendampingan yang oleh apoteker sejak pasien pulang dari rumah sakit. Program ini mencakup pemantauan tekanan darah mandiri lewat aplikasi, pengingat otomatis, konsultasi rutin secara daring, hingga rehabilitasi jantung virtual, sebelum akhirnya pasien diserahterimakan ke fasilitas kesehatan primer terdekat.

Kehadiran pakar kelas dunia seperti Prof Doreen dalam IGSCPS 2026 menegaskan posisi Fakultas Farmasi UNAIR sebagai simpul diskusi keilmuan farmasi tingkat regional. Sekaligus, membuka peluang kolaborasi riset lanjutan antara UNAIR dan jejaring akademisi ASEAN di bidang farmakoterapi dan kesehatan.

Tags: jantungsingapurauniversitas airlangga
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Negara Hukum: Fatamorgana yang Makin Digilas Kuasa
  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.