• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Waspada El Nino, Ini Strategi Mitigasinya

Pentingnya kepemilikan cadangan air mandiri sebagai solusi individu dalam meminimalisir risiko krisis air ketika kekeringan melanda.

by Admin
Rabu, 19 Agustus 2026
A A
Waspada El Nino, Ini Strategi Mitigasinya

Fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia kerap berujung pada kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, El Nino juga berpotensi menimbulkan risiko bencana sekunder (secondary disaster).

Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Aditya Prana Iswara, mengungkapkan mitigasi fenomena El Nino tidak akan berjalan optimal apabila penanganan bencana di lapangan masih cenderung reaktif. Menurutnya, upaya tersebut kerap terhambat oleh tata kelola bencana yang tumpang tindih di Indonesia.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya.

Aditya menyoroti pentingnya kepemilikan cadangan air mandiri sebagai solusi individu dalam meminimalisir risiko krisis air ketika kekeringan melanda. Ia menyebut, reservoir atau cadangan air dapat diupayakan dengan melakukan pemanenan air hujan (rain harvesting).

“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” ujarnya.

Aliran air hujan dari talang rumah akan diarahkan ke satu sudut. Sedangkan sudut lainnya mengarah ke tandon dengan melewati proses sterilisasi sebelum digunakan. Meski volume air yang berasal dari proses tersebut tidak sebanyak kebutuhan harian, Aditya menilai langkah tersebut efektif dalam menghasilkan cadangan air mandiri.

“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim ya, karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” katanya.

Saat kekeringan melanda, masyarakat menghadapi kesulitan terhadap akses air bersih. Sumber air yang semula kedalamannya hanya berjarak 1 meter bisa merosot hingga 10 meter. Sehingga, terjadi penurunan tingkat higienitas masyarakat yang memicu potensi penyakit baru.

Di sisi lain, durasi kekeringan berkepanjangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti perubahan iklim hingga pola konsumsi masyarakat yang belum ramah lingkungan (green consumption). Dengan demikian, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama guna menekan dampak bencana.

Menjaga kelestarian lingkungan turut menjadi langkah awal dalam mitigasi El Nino. Meskipun, pemerintah telah memetakan dan mengamankan sumber-sumber air potensial, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk mematuhi aturan baku mutu lingkungan.

Langkah ini turut berkontribusi dalam pemenuhan tujuan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dan SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

“Kita harus mulai berbicara terkait dengan green consumption, jangan terlalu over consumption. Kita harus menata kebutuhan sesuai dengan apa yang benar-benar kita butuhkan,” katanya.

Tags: bencana hidrometeorologiBMKGel ninouniversitas airlangga
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Negara Hukum: Fatamorgana yang Makin Digilas Kuasa
  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.