• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Hari Lingkungan Hidup, Krisis Iklim Ancam Masa Depan Generasi Mendatang

Krisis ini adalah akibat langsung dari cara kita mengelola lingkungan.

by Admin
Selasa, 9 Juni 2026
A A
INDONESIA GELAP: Ancaman Krisis Iklim dan Ekonomi Akibat Deforestasi 

Deforestasi. (Sumber: Trend Asia/2025)

Di balik peringatan Hari Lingkungan Hidup yang tengah diperingati di tengah kenyataan krisis iklim yang terus memburuk, banjir rob menggerus kawasan pesisir. Situasi ini memaksa banyak warga kehilangan ruang hidupnya sedikit demi sedikit.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan cuaca ekstrem makin sering terjadi dan memukul petani serta nelayan yang bergantung pada pola musim yang kini kacau. Perayaan tahunan ini justru menegaskan kondisi yang kontras. Hari Lingkungan Hidup dirayakan di tengah situasi krisis yang tidak terselesaikan terutama oleh negara.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

Patria Rizky Ananda, Pengkampanye Iklim dan Isu Global Walhi menyatakan krisis ini adalah akibat langsung dari cara kita mengelola lingkungan. Menurut dia, pola pembangunan yang terus bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam, secara tidak langsung telah meningkatkan daya dukung ekosistem.

Hutan dibuka, lanjut dia, pesisir direklamasi, dan ruang kehidupan konversi tanpa mempertimbangkan keingintahuan. Dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi terakumulasi menjadi beban ekologis yang diwariskan.

“Inilah inti permasalahan hak antar generasi, generasi sekarang mengonsumsi sumber daya secara berlebihan, sementara generasi mendatang akan menanggung kerusakannya,” kata Patria dalam keterangan, Minggu, 7 Juni 2026.

Walhi menghimpun data yang menunjukkan ancaman tengah menjadi ancaman serius. Sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia berpotensi tenggelam pada tahun 2050, mengancam kehidupan sekitar 42 juta penduduk di wilayah pesisir rendah.

Walhi juga mencatat di sektor pangan, perubahan iklim diperkirakan menurunkan produksi beras sebesar 6% dan jagung hingga 14% yang mengancam ketahanan pangan nasional. Sementara itu, lebih dari 34% populasi Indonesia diproyeksikan mengalami kelangkaan udara pada tahun yang sama.

Patria mengatakan risiko kesehatan pun meningkat, dengan ancaman malnutrisi serta penyakit seperti diare dan malaria akibat perubahan ekosistem dan cuaca ekstrem. Semua ini, ucap dia, paling akan dirasakan oleh generasi muda dan anak-anak yang hidup lebih lama di tengah krisis.

Kondisi ini, menurut dia, mencerminkan ketidakadilan lintas generasi yang nyata. Generasi hari ini masih memiliki kesempatan mengakses sumber daya, sementara generasi mendatang menghadapi degradasi yang jauh lebih parah.

“Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat menjadi semakin sulit terpenuhi. Bukan hanya soal kualitas udara atau udara, tetapi juga hak atas masa depan yang layak: pekerjaan, pangan, kesehatan, dan keamanan dari bencana,” ucap Patria.

Ironisnya, kata dia, banyak pendekatan yang diklaim sebagai solusi justru memperdalam krisis. Proyek-proyek dengan label hijau berukuran besar tetap merusak hutan, mengubah bentang alam, dan memicu konflik ruang hidup. Sebagai contoh proyek hilirisasi nikel untuk transisi energi.

Ia mengatakan pendekatan terus mempertahankan pola lama dengan kemasan baru. Transisi yang tidak adil, buat dia, hanya akan mempercepat ekologi ekologis yang harus dibayar oleh generasi berikutnya.

Oleh karena itu, tutur Patria, kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari hak antar generasi. Setiap keputusan hari ini harus dilihat dampaknya terhadap mereka yang belum lahir.

Patria menjelaskan, generasi muda bukan hanya penerus, tetapi pemilik hak atas bumi yang sama. Hari Lingkungan Hidup seharusnya menjadi titik refleksi sekaligus peringatan keras.

Ia menegaskan krisis yang terjadi saat ini adalah warisan yang sedang terbentuk. Jika tidak segera berubah, dalam hal kebijakan ini, maka kita terus menimbun ekologis yang akan diwariskan secara tidak adil.

“Dan, ketika saat itu tiba, generasi mendatanglah yang akan membayar harga paling mahal dari keputusan yang tidak pernah mereka buat,” tutur Patria.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.