• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Dampak Tambang Nikel di Halmahera Tak Hanya Ancam Laut

Salah satu dampak yang paling mudah diamati adalah meningkatnya kekeruhan dan perubahan warna pada perairan.

by Admin
Sabtu, 13 Juni 2026
A A
Dampak Tambang Nikel di Halmahera Tak Hanya Ancam Laut

Aktivitas pertambangan nikel yang berkembang pesat di wilayah pesisir, termasuk di kawasan Teluk Buli, Halmahera Timur, yang belakangan ini menjadi perhatian publik akibat perubahan kondisi perairan, perlu dikelola secara lebih hati-hati.

Menurut Meutia Ismet, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, dampak pertambangan wilayah pesisir tidak hanya berpotensi mengganggu ekosistem laut. Tapi juga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi pesisir dalam jangka panjang.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

Ia menjelaskan, salah satu dampak yang paling mudah diamati adalah meningkatnya kekeruhan dan perubahan warna pada perairan akibat masuknya sedimentasi dari daratan ke laut. Pembukaan lahan tambang, kata dia, membuat lapisan permukaan tanah menjadi tidak stabil sehingga mudah terbawa air hujan menuju perairan pesisir.

Menurut dia, masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah yang besar dapat menurunkan kualitas perairan. Kekeruhan yang meningkat akan menghambat masuknya cahaya matahari ke kolom perairan. “Sehingga mengganggu proses fotosintesis berbagai organisme laut fotosintesis, dan juga menurunkan konsentrasi oksigen perairan akibat meningkatnya bahan organik dr daratan yg terdekomposisi,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan sedimentasi di perairan juga dapat mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang. Sedimentasi yang menutupi permukaan karang akan mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan alga simbion untuk berfotosintesis.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan stres pada terumbu karang yang memicu pemutihan atau coral bleaching, hingga kematian,” kata Meutia.

Ia mengatakan kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada satu jenis organisme. Berbagai biota laut yang menjadikan terumbu karang sebagai habitat, ujar dia, tempat mencari makan, dan lokasi pemijahan akan kehilangan ruang hidupnya. Dampak serupa juga berpotensi terjadi pada ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir.

Selain sedimentasi, Meutia mengingatkan aktivitas pertambangan nikel berpotensi meningkatkan kandungan logam berat seperti nikel, besi, mangan, dan kadmium di perairan. Logam-logam itu dapat terakumulasi pada organisme laut dan mengalami biomagnifikasi dalam rantai makanan, sehingga berisiko mengganggu kesehatan manusia yang mengonsumsinya dalam jangka panjang.

Dalam jangka panjang, kata dia, logam berat yang terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan kronis, mulai dari penyakit kulit, gangguan saraf, penurunan fungsi ginjal, hingga peningkatan risiko kanker. “Risiko ini akan menjadi besar apabila masyarakat pesisir mengandalkan hasil tangkapan dari perairan yang telah terkontaminasi,” kata dia.

Perihal kondisi di Teluk Buli, Halmahera Timur, Meutia menekankan pentingnya pemantauan kualitas air, sedimentasi, dan kandungan logam berat secara berkala untuk memastikan dampak aktivitas pertambangan terhadap lingkungan perairan.

Ia menilai langkah yang perlu dilakukan meliputi evaluasi pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), penguatan pengendalian sedimentasi, revegetasi lahan terbuka, serta perlindungan bagi masyarakat terdampak melalui dukungan ekonomi, layanan kesehatan, dan akses air bersih.

“Pemulihan lingkungan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir dengan mengatasi sumber masalah di daratan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh ekosistem maupun masyarakat,” tuturnya.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.