• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Minggu, November 1, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

ADB Prakirakan Pertumbuhan Asia Pasifik 2026 Melambat di Tengah Krisis Energi

Gangguan pasar energi yang berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah berdampak lebih berat terhadap kawasan ini daripada yang diperkirakan.

by Prohealth
Kamis, 9 Juli 2026
A A
ADB Prakirakan Pertumbuhan Asia Pasifik 2026 Melambat di Tengah Krisis Energi

Asian Development Bank (ADB) menurunkan prakiraan pertumbuhan perekonomian berkembang di kawasan Asia dan Pasifik menjadi 4,9% pada 2026, dibandingkan dengan 5,5% pada 2025. Hal ini merupakan penurunan 0,2 poin persentase dari proyeksi pada April.

Gangguan pasar energi yang berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah berdampak lebih berat terhadap kawasan ini daripada yang diperkirakan, demikian menurut proyeksi ekonomi terbaru dari ADB yang dirilis pada 8 Juli. Prakiraan pertumbuhan untuk 2027 masih dipertahankan pada 5,1% sebagai cerminan pulihnya kegiatan ekonomi setelah meredanya tekanan.
Asian Development Outlook (ADO) July 2026 memperkirakan perbaikan terhadap gangguan pasar energi global hanya akan terjadi secara bertahap. Meski sudah ada kesepakatan kerangka kerja yang ditandatangani pada Juni.

BacaJuga

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045

Riset: Pemotongan Komisi Ojol 8% Belum Efektif Tingkatkan Kesejahteraan Driver

Mengingat dampak konflik itu tak hanya berpengaruh terhadap energi, tetapi juga pupuk, harga komoditas lainnya, dan berbagai rantai pasokan, tekanan inflasi kemungkinan belum akan berkurang. Inflasi kawasan ini kini diperkirakan 4,3% di tahun ini, dibandingkan dengan 3% di 2025—naik 0,7 poin persentase dibandingkan perkiraan April. Prakiraan inflasi untuk 2027 masih tetap 3,4%.

“Jika berjalan baik, pelaksanaan kesepakatan kerangka kerja akan membantu normalisasi pasar energi global, tetapi seberapa cepat terjadinya penyesuaian tersebut masih sangat tidak pasti dengan risiko pemburukan yang signifikan,” kata Kepala Ekonom ADB Albert Park.

Ia menyatakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik masih tetap tangguh. “Tapi gangguan berkepanjangan akibat konflik memerlukan keseimbangan kebijakan yang hati-hati antara mendukung pertumbuhan dengan menjaga inflasi,” katanya.

ADO July 2026 memperingatkan bahwa terjadinya kembali eskalasi konflik dan ketidakpastian geopolitik berkepanjangan masih merupakan risiko utama terhadap proyeksi kawasan ini. Keduanya dapat makin memperketat pasar energi, meningkatkan premium risiko, serta memperparah inflasi dan tekanan eksternal.

Kondisi keuangan global yang makin ketat membawa berbagai risiko tambahan. Yaitu kenaikan imbal hasil obligasi negara dan biaya pinjaman, serta membesarnya proyeksi defisit fiskal di sejumlah perekonomian.

Tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan juga dapat menekan kegiatan ekonomi. Sedangkan kenaikan harga pupuk terus mengancam produksi pertanian dan ketahanan pangan.

Proyeksi pertumbuhan 2026 menurun untuk sebagian besar subkawasan, kecuali negara berkembang di kawasan Asia Timur. Prakiraan untuk Republik Rakyat Tiongkok tidak berubah, masih sebesar 4,6% pada 2026 dan 4,5% pada 2027, berkat ekspor yang kuat dan investasi infrastruktur.

Prakiraan pertumbuhan India menurun ke 6,6% tahun ini akibat kenaikan biaya energi yang menekan permintaan domestik, dan dipertahankan sebesar 7,3% pada tahun depan. Proyeksi pertumbuhan bagi Asia Tenggara dan Pasifik juga dipangkas sebagai cerminan melemahnya permintaan domestik dan pariwisata, naiknya inflasi, dan biaya impor yang lebih tinggi.

ADB adalah bank pembangunan multilateral terkemuka yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan, inklusif, dan tangguh di Asia dan Pasifik. Bekerja sama dengan para anggota dan mitranya untuk mengatasi tantangan yang kompleks secara bersama-sama, ADB memanfaatkan perangkat keuangan yang inovatif dan kemitraan strategis.

Tujuannya untuk mengubah kehidupan, membangun infrastruktur yang berkualitas, dan melindungi bumi kita. Didirikan pada 1966, ADB beranggotakan 69 negara—50 di antaranya berasal dari kawasan Asia dan Pasifik.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Negeri yang Berjanggut Berhasil Hilangkan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
  • Kampus Sudah Terapkan Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Masih Banyak yang Klepas-klepus?
  • Penerapan Cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan Kembali Ditunda, Ada Indikasi Lobi Industri
  • Inilah Tujuh Kandidat Direktur Jenderal WHO
  • Bagaimana Asap Rokok dan Vape Mengintai Kesehatan Masyarakat, Ini Penjelasan Dokter Paru
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.