• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Selasa, Oktober 27, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

BRIN Teliti Karakteristik Partikulat Halus di Tangerang Selatan

Penelitian dilakukan merespons meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas udara di Tangerang Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

by Admin
Kamis, 23 Juli 2026
A A
BRIN Teliti Karakteristik Partikulat Halus di Tangerang Selatan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meneliti karakteristik partikulat halus (PM2.5) di Kota Tangerang Selatan. Riset ini bertujuan mengidentifikasi komposisi kimia, sumber pencemar, serta kaitannya dengan faktor meteorologi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat sebagai dasar pengendalian pencemaran udara di perkotaan.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Novita Ambarsari, mengatakan penelitian dilakukan merespons meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas udara di Tangerang Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

“Kami ingin mengetahui karakter polutannya, termasuk apakah sumber pencemar berasal dari dalam wilayah Tangerang Selatan atau dipengaruhi daerah sekitar,” ujarnya ke Tim Humas BRIN, Senin, 20 Juli 2026.

Tangerang Selatan dipilih karena memiliki mobilitas kendaraan tinggi dan menjadi wilayah lintasan kota penyangga Jakarta, sehingga berpotensi menerima polusi lintas wilayah. Dalam riset ini, tim mengukur PM2.5 dan sejumlah gas pencemar, seperti nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), dan amonia (NH₃), yang berperan dalam pembentukan partikulat sekunder di atmosfer.

Selain pemantauan konsentrasi, BRIN menganalisis komposisi kimia PM2.5 melalui metode pengambilan sampel berbasis filter menggunakan MiniVol Air Sampler. Sampel kemudian diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan senyawa organik, ion, logam, hingga morfologi partikel.

“Metode ini memungkinkan sampel PM2.5 dianalisis di laboratorium sehingga tidak hanya mengukur konsentrasi, tetapi juga mengungkap kandungan rinci, seperti senyawa organik, ion, logam, dan morfologi partikel, yang tidak dapat diperoleh dari sensor pemantauan kualitas udara,” jelas Novita.

Penelitian dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan dengan memadukan data pemantauan kontinu dan hasil analisis laboratorium BRIN agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai karakteristik pencemaran udara. Hasil kajian menunjukkan konsentrasi polutan di perkotaan dipengaruhi aktivitas transportasi serta kondisi meteorologi, seperti arah dan kecepatan angin serta curah hujan.

“Di kawasan perkotaan seperti Tangerang Selatan, kepadatan transportasi menjadi sumber emisi utama. Sementara kondisi meteorologi seperti hujan, arah, dan kecepatan angin turut menentukan tinggi rendahnya konsentrasi polutan. Sehingga, keduanya perlu dikaji secara bersamaan,” kata Novita.

Temuan sebelumnya di berbagai wilayah juga menunjukkan kaitan antara peningkatan aerosol dan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karena itu, riset ini diharapkan memberikan gambaran lebih rinci mengenai karakter pencemar udara dan dampaknya bagi kesehatan masyarakat. Ia berharap hasil penelitian dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian pencemaran udara yang lebih tepat sasaran.

Ke depan, BRIN akan mengembangkan kajian senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) pada PM2.5, air hujan, dan fase gas untuk memperkaya data pencemar udara di Jabodetabek serta mendukung upaya mitigasi pencemaran udara di Indonesia.

Novita menegaskan, pengendalian pencemaran udara memerlukan sinergi lintas sektor, mulai dari lembaga riset, pemerintah daerah, kementerian, hingga masyarakat, agar kebijakan yang dihasilkan lebih efektif dan berbasis bukti ilmiah.

“Penelitian kualitas udara tidak cukup hanya mengukur konsentrasi polutan, tetapi juga perlu memahami kandungan kimia, sumber pencemar, dan faktor yang memengaruhinya. Karena itu, kolaborasi lintas instansi diperlukan agar data dan hasil riset saling melengkapi dalam mendukung kebijakan pengelolaan kualitas udara yang lebih efektif,” katanya.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.