• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Anak Krakatau Erupsi, BMKG Pantau Dampak & Soekarno-Hatta Tutup

Abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

by Prohealth
Minggu, 6 September 2026
A A
Anak Krakatau Erupsi, BMKG Pantau Dampak &  Soekarno-Hatta Tutup

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan 24 jam terhadap perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu, 6 September 2026, pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

BacaJuga

Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global

Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang bergerak cepat dengan menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET). Ini adalah peringatan dini untuk cuaca penerbangan) pertama sesaat setelah erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

Hingga saat ini, BMKG telah menerbitkan sebanyak 50 SIGMET secara berkala guna menjamin keselamatan navigasi udara. “Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.

Ia menjelaskan abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM, adalah pemberitahuan resmi penting mengenai penerbangan) yang diterbitkan Perum LPPNPI/Airnav pada 6 September, terdapat penutupan sementara operasional Bandar Udara Soekarno-Hatta, Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Bandar Udara Radin Inten II, dan Bandar Udara Budiarto pada waktu yang berbeda. Kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan informasi keselamatan penerbangan.

Langkah penutupan sementara bandar udara akibat sebaran abu vulkanik GAK merupakan hasil kolaborasi dan keputusan bersama seluruh stakeholders penerbangan nasional. Keputusan strategis ini diambil oleh Otoritas Bandar Udara melalui koordinasi intensif bersama BMKG, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia), serta para pengelola bandar udara yang mencakup Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, otoritas setempat, dan TNI.

Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan darurat yang diambil menempatkan keselamatan operasional penerbangan sebagai prioritas utama.

Guna menyampaikan kebijakan operasional tersebut secara cepat dan akurat Perum LPPNPI mempublikasikan NOTAM sebagai pemberitahuan resmi yang bersifat mendesak mengenai perubahan kondisi operasional atau potensi bahaya penerbangan.

Penerbitan NOTAM ini melengkapi peringatan dini Volcanic Ash Advisory dan SIGMET yang dirilis secara berkala oleh BMKG, sehingga para pemangku kepentingan penerbangan dapat merespons perubahan situasi cuaca dan ruang udara secara terukur serta terkoordinasi.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan berdasarkan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07:00 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut. Analisis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas tsunami pada saat tersebut berada di tingkat rendah (di bawah 40 persen), dengan tinggi gelombang laut yang terjaga di kisaran satu meter.

“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intesitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” ujarnya.

Guna mengantisipasi dampak dinamika erupsi GAK, BMKG mengoptimalkan kesiapsiagaan nasional melalui skema pemantauan terpadu berbasis multi-instrument secara nonstop selama 24 jam penuh. Pendekatan lintas instrumen ini bersinergi dengan analisis dari PVMBG-Badan Geologi guna menyajikan data yang presisi, cepat, dan akurat, sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam mendukung pengambilan keputusan serta menjaga keselamatan penerbangan dan wilayah pesisir Selat Sunda.

BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang beraktivitas dan bermukim di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk meningkatkan kewaspadaan namun tetap tenang. Masyarakat diminta untuk menyaring seluruh informasi yang beredar dan tidak mudah terpengaruh atau menyebarluaskan isu-isu yang belum terverifikasi kebenarannya.

Untuk mendapatkan pembaruan kondisi secara real-time, masyarakat dapat merujuk pada saluran komunikasi resmi yang dirilis secara berkala oleh BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta instansi pemerintah berwenang setempat.

Tags: anak krakatauBantenBMKGDKI JakartaErupsijawa barat
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.