• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Apa yang Harus Dilakukan Jika Kena Abu Vulkanik Anak Krakatau

Paparan abu vulkanik dapat memicu batuk hingga sesak, terutama pada kelompok rentan. Selain melindungi pernapasan, warga diminta membatasi aktivitas di luar rumah dan membersihkan abu dengan cara yang tepat.

by Iriene Natalia
Minggu, 6 September 2026
A A
Apa yang Harus Dilakukan Jika Kena Abu Vulkanik Anak Krakatau

Ilustrasi erupsi gunung berapi.

Abu vulkanik erupsi gunung Anak Krakatau yang menyebar ke sejumlah wilayah tak boleh dianggap sebagai debu biasa. Dokter spesialis paru mengingatkan, paparan abu dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan hingga memicu batuk dan sesak, terutama pada kelompok rentan. Masyarakat pun diminta membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker yang sesuai kondisi paparan.

Debu yang menempel di kaca jendela, kendaraan hingga halaman rumah mungkin terlihat seperti kotoran biasa. Namun, ketika berasal dari aktivitas vulkanik, partikel ini membawa risiko berbeda bagi kesehatan, terutama jika terhirup dalam jumlah banyak.

BacaJuga

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Pemerintahan Klaim Peningkatan Cek Kesehatan Gratis dan Penanganan Tuberkulosis

Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Persahabatan Erlina Burhan mengatakan abu vulkanik bukan hanya material seperti debu pada umumnya. Di dalamnya terdapat material batuan dan mineral dengan ukuran partikel yang beragam. Ketika terhirup, kata dia, material berbahaya itu dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan. Jika iritasi berlanjut menjadi peradangan, maka produksi sekret atau lendir di saluran napas dapat meningkat sehingga tubuh terus merespons dengan batuk.

“Bayangkan kalau material berbahaya itu kita hirup. Lama-kelamaan akan membuat kita sesak, ini saya kira akan sangat berbahaya,” kata Erlina kepada Prohealth, Minggu 6 September 2026.

Kondisi ini, ujar Erlina dapat berkembang menjadi berbahaya terutama pada orang yang memang memiliki masalah pada saluran pernapasan. Orang dengan penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian serius. Begitu pula lansia dan anak-anak yang saluran pernapasannya lebih rentan terhadap paparan. Selain itu, ibu hamil juga termasuk rentan karena batuk berkepanjangan dapat menimbulkan tekanan pada bagian perut.

“Kelompok rentan itu yang mudah sekali batuk dan sesak napas. Kalau dibiarkan batuk ini dibiarkan, ada potensi masuk virus dan kuman, ujungnya komplikasi berupa pneumonia,” ujar Guru Besar Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini.

Masyarakat juga diminta mengenali gejala yang membutuhkan perhatian medis. Jika setelah terpapar abu seseorang hanya mengalami bersin atau iritasi ringan maka beristirahat dan menghindari sumber paparan abu dapat menjadi langkah awal. Namun, batuk yang berlangsung terus-menerus perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan yang lebih serius. Karena itu, masyarakat yang mulai mengalami sesak napas setelah paparan abu sebaiknya tidak menunda pemeriksaan medis.

“Gejala awal bisa berupa bersin dan batuk. Tapi kalau kemudian batuk-batuk yang terus-menerus ini yang perlu penanggulangan medis segera,” ujarnya.

Paparan abu juga tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan. Partikel dengan ukuran berbeda dapat mengiritasi mata, terutama pada orang yang sensitif terhadap debu. Mata dapat dengan mudah menjadi merah atau terasa gatal. Untuk kondisi tersebut, tidak dianjurkan menggosok mata dengan tangan.

“Mohon tidak dikucek-kucek dengan tangan ya, sebaiknya mata dibersihkan saja dengan air mengalir,” kata dia.

Erlina menambahkan sebagian partikel abu vulkanik yang berukuran sangat kecil dapat masuk hingga bagian dalam sistem pernapasan. Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah. Jenis masker yang digunakan pun, kata dia, perlu disesuaikan dengan tingkat paparan.

“Untuk masyarakat yang berada cukup jauh dari sumber erupsi dan hanya menghadapi paparan abu relatif sedikit, masker medis sudah cukup. Namun, bagi warga yang berada lebih dekat dengan sumber paparan dan menghadapi abu dalam jumlah banyak, perlindungan yang lebih kuat seperti masker N95 lebih disarankan, juga kacamata pelindung,” tuturnya.

Selain penggunaan masker bagi masyarakat terdampak, Erlina juga menekankan pada pentingnya membersihkan rumah dengan cara yang tepat. Abu vulkanik yang mengendap sebaiknya tidak langsung disapu atau dilap dalam kondisi kering karena dapat kembali beterbangan dan terhirup. Sebelum dibersihkan, abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu dengan air agar tidak menyebar ke udara.

“Misal kaca jendela, lantai rumah langsung disapu atau pakai kemoceng. Disemprot dulu, basahi dengan air dulu agar abu tidak beterbangan dan terhirup. Ini cara sederhana yang banyak orang tidak tahu,” kata Erlina.

Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi terkini mengenai perkembangan erupsi dan sebaran abu vulkanik, namun tetap tenang dan tidak panik berlebihan. Di sisi lain, pihak berwenang seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah juga diminta secara rutin menyampaikan informasi yang jelas dan transparan mengenai wilayah terdampak serta tingkat paparan abu kepada masyarakat. Informasi tersebut penting agar warga dapat menentukan langkah antisipasi, termasuk menghindari wilayah yang berisiko dan mengurangi paparan abu vulkanik.

“Secara berkala pemerintah harus buka informasi kepada masyarakat, juga soal dampaknya. Agar masyarakat juga antisipasi dan tidak panik,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, paparan abu vulkanik dapat berdampak pada tiga bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian, yakni saluran pernapasan, mata, dan kulit.

“Tidak perlu panik, ada tiga dampak yang harus kita jaga bersama yaitu pernafasan, mata, dan kulit. Kalau tidak ada kegiatan harus keluar, usahakan di dalam rumah,” kata Menkes Budi dalam konferensi pers di kanal YouTube BNPB Indonesia, Minggu 6 September 2026.

Kemenkes mulai mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) di seluruh daerah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Langkah ini disertai penerbitan surat edaran bagi tenaga kesehatan dan koordinasi rutin dengan dinas kesehatan daerah untuk memantau perkembangan dampak erupsi Anak Krakatau.

“Kita akan pantau rutin melalui Zoom rutin health emergency center Kemenkes dan Dinas Kesehatan seluruh kabupaten/kota untuk monitor perkembangan sepenuhnya,” kata Menkes.

Berdasarkan pantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih dinamis dan dapat berubah mengikuti aktivitas erupsi serta arah dan kecepatan angin.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, menggunakan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas jika konsentrasi abu meningkat, serta menutup makanan dan sumber air agar tidak terkontaminasi. Masyarakat juga diminta membersihkan abu dengan memperhatikan keselamatan dan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan erupsi.

Di daratan, abu vulkanik telah terpantau di sejumlah wilayah Banten, termasuk Kecamatan Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros dan Padarincang di Kabupaten Serang. Dampak juga dipantau di sejumlah wilayah Lampung, antara lain Punduh Pedada dan Rajabasa di Lampung Selatan serta Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka dan Kota Agung di Tanggamus. Hingga pemutakhiran terakhir, kondisi masyarakat masih relatif terkendali dan belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat erupsi.

Tags: abu vulkanikanak krakataubatuandebuErupsi
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.