• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Kamis, Oktober 29, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Bagaimana Alam Pulih setelah Erupsi?

Kemunculan Anak Krakatau pada 1927 dari sisa letusan ini menghadirkan ekosistem baru yang pada awalnya kosong dari flora dan satwa liar.

by Tim Prohealth
Jumat, 11 September 2026
A A
Bahaya Abu Vulkanik dalam Penerbangan

Erupsi gunung api tidak selalu menjadi akhir bagi kehidupan. Di balik kehancuran vegetasi dan habitat, erupsi dapat menjadi awal terbentuknya ekosistem baru melalui proses suksesi primer.

Fenomena ini terlihat di kawasan Krakatau yang menjadi salah satu laboratorium alam paling utama untuk mempelajari bagaimana ekosistem berkembang dari kondisi hampir tanpa kehidupan hingga terbentuk komunitas vegetasi dan satwa.

BacaJuga

Badan Cuaca PBB: Rekor Tingkat Karbon Dioksida Berdampak ke Kita Berabad-abad

Koalisi Jaga Hutan Ungkap Pola Konflik, Kekerasan, dan Deforestasi di Industri Kehutanan

Ahli konservasi tumbuhan sekaligus dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Agus Hikmat, menjelaskan letusan Krakatau pada 1883 menjadi studi kasus klasik dalam kajian perkembangan ekosistem.

Kemunculan Anak Krakatau pada 1927 dari sisa letusan ini menghadirkan ekosistem baru yang pada awalnya kosong dari flora dan satwa liar.

“Erupsi gunung berapi akan mereset ekosistem yang ada menjadi ekosistem yang baru. Ekosistem di kawasan Krakatau merespons dalam tiga fase, yaitu fase penghancuran, kolonisasi, dan stabilisasi ekosistem,” ujar Agus.

Pada fase penghancuran, berbagai indikator seperti suhu panas, abu vulkanik, gas beracun seperti sulfur dioksida (SO₂), hingga tsunami dapat menyebabkan vegetasi mengalami kerusakan berat atau mati.

“Satwa liar juga terdampak, baik karena kematian, melarikan diri, maupun terbawa gelombang. Namun, sebagian satwa seperti burung laut, kelelawar, dan serangga terbang dapat bertahan sekaligus berperan sebagai agen penyebar biji,” katanya.

Proses ini, lanjut Dr Agus, kemudian menjadi pintu masuk bagi suksesi primer. Setelah permukaan pulau tertutup pasir atau batuan vulkanik, organisme pionir seperti mikroba, lumut, dan jamur mulai hadir.

Seiring perubahan substrat dan kondisi lingkungan, rerumputan, semak, perdu, hingga pohon-pohon kecil secara bertahap dapat berkembang dan membentuk hutan muda.

“Proses suksesi primer dapat berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun, bergantung pada kondisi lingkungan dan keberadaan agen penyebar biji,” katanya.

Selain menghancurkan, lanjut Agus, erupsi juga dapat menciptakan habitat baru. Lava yang mendingin menjadi batuan vulkanik dan melalui pelapukan dapat berkembang menjadi tanah kaya mineral.

Material vulkanik di laut juga dapat menjadi substrat bagi pertumbuhan karang, sementara gua lava, kawah, dan tebing baru dapat menjadi niche bagi kelelawar, burung, kadal, serta organisme lainnya.

Karena Anak Krakatau merupakan kawasan konservasi berupa cagar alam dan masih aktif secara vulkanik, Agus menekankan agar membiarkan proses alami berlangsung.

Konservasi perlu dilakukan dengan mencegah spesies asing invasif, tidak mengintroduksi tanaman dari luar, serta melakukan pemantauan erupsi, tsunami, vegetasi, dan satwa liar secara jangka panjang.

“Krakatau adalah laboratorium alam proses suksesi primer. Tugas konservasi bukan mengembalikan alam seperti semula, tetapi melindungi proses suksesi alami agar berjalan dengan baik,” katanya.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Pasien Sakit Parah, Dia Manusia Pertama Terinfeksi Virus Shamonda
  • Apa Itu Virus Shamonda, Sebaran, dan Gejalanya
  • Kemenkes dan DKI Jakarta Perkuat Pencegahan Tuberkulosis
  • DKI Kaul Perkuat Pemilahan Sampah dari Rumah
  • Forum Cik Di Tiro: Hentikan Kekerasan Berlebihan
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.