• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Bahaya Abu Vulkanik dalam Penerbangan

Bahaya paling krusial terletak pada dinamika termal di dalam mesin turbofan pesawat. Suhu ruang bakar mesin jet saat beroperasi dapat mencapai 1.400 derajat C hingga 2.000 derajat C.

by Prohealth
Senin, 7 September 2026
A A
Bahaya Abu Vulkanik dalam Penerbangan

Erupsi gunung api memuntahkan abu vulkanik yang secara fisik dan kimiawi sangat berbeda dari awan biasa. Abu vulkanik tidak terdiri dari tetesan air atau kristal es, melainkan fragmentasi batuan mikroskopis, silika SiO2, serta kristal mineral berujung tajam yang bersifat sangat abrasif.

Ketika pesawat terbang melintasi awan abu pada kecepatan jelajah tinggi, gesekan partikel-partikel keras ini secara mekanis mengikis permukaan kaca kokpit hingga menjadi buram (pitting/sandblasting). Abu ini merusak sensor dinamika udara seperti pitot tube yang mengukur kecepatan udara, serta mengikis bilah turbin dan lapisan pelindung mesin jet.

BacaJuga

6 Tahun Prohealth.id: Urgensi Isu Kesehatan bagi Penguatan Kontrol Publik

Rokok, Penyelamat Palsu Mental Rapuh

Bahaya paling krusial terletak pada dinamika termal di dalam mesin turbofan pesawat. Suhu ruang bakar mesin jet saat beroperasi dapat mencapai 1.400 derajat C hingga 2.000 derajat C. Suhu ini jauh melampaui titik leleh senyawa silika dalam abu vulkanik yang meleleh di kisaran 1.100 derajat C.

Ketika abu vulkanik terhisap masuk ke dalam mesin, partikel silika ini meleleh secara mendadak, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca (silicate glass coating) saat melewati bagian turbin yang lebih dingin.

Penumpukan kerak kaca ini menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin. Akibatnya, berujung pada terhentinya aliran udara (engine stall) hingga hilangnya pembakaran internal secara total (flameout).

Selain kerusakan mekanis dan termal, abu vulkanik juga memicu gangguan sistemik pada navigasi dan kelistrikan pesawat. Gesekan antarpartikel abu halus yang terlempar dengan kecepatan tinggi menimbulkan muatan listrik statis ekstrem, memicu fenomena St. Elmo’s Fire di kaca kokpit serta gangguan interferensi frekuensi radio komunikasi.

Komposisi asam yang melekat pada abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan korosi instan pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sistem pengondisian udara kabin (bleed air). Ini tidak hanya mengancam kelangsungan fungsi instrumen penerbangan tetapi juga membahayakan keselamatan sistem pernapasan kru dan penumpang.

Abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena mengandung fragmentasi kaca silika (SiO2) dan mineral mikroskopis tajam yang bersifat abrasif. Abu ini sanggup mengikis kaca kokpit, merusak sensor kecepatan udara, serta memicu gangguan listrik statis pada navigasi.

Bahaya paling fatal terjadi ketika abu terhisap ke dalam mesin jet; suhu ruang bakar yang mencapai 1.400 derajat C akan melelahkan partikel silika hingga menjadi cairan kaca. Ini kemudian mendingin dan membeku di bilah turbin, menyumbat aliran udara, dan menyebabkan kegagalan mesin mendadak (flameout) di udara.

Insiden penerbangan paling terkenal akibat abu vulkanik terjadi pada 24 Juni 1982, ketika pesawat British Airways Penerbangan 9 melintasi awan abu erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat pada ketinggian 37.000 kaki.

Abu vulkanik silika yang terhisap ke dalam empat mesin jet Boeing 747 ini meleleh dan membeku di bilah turbin hingga memicu kegagalan pembakaran mendadak (flameout) yang mematikan seluruh mesin secara bersamaan. Hal ini disertai fenomena listrik statis St. Elmo’s Fire dan kikisan abrasif pada kaca kokpit.

Setelah meluncur bebas tanpa mesin sejauh puluhan kilometer keluar dari paparan awan abu, kapten pilot Eric Moody dan krunya berhasil menyalakan kembali mesin saat suhu partikel meleleh mendingin dan rontok di ketinggian lebih rendah. Lalu, pesawat melakukan pendaratan darurat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Penghentian sementara operasional penerbangan di beberapa bandara saat terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan langkah dan keputusan yang tepat demi menjamin keselamatan penerbangan.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI)

Tags: abu vulkanikanak krakatauBandaraErupsipenutupan bandara
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.