• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Beras 5 Kilogram Mulai Langka, Ini Dampaknya bagi Konsumen

Beras kemasan 5 kg menjadi salah satu pilihan yang banyak diburu karena sesuai dengan kebiasaan rumah tangga.

by Tim Prohealth
Sabtu, 19 September 2026
A A
Beras 5 Kilogram Mulai Langka, Ini Dampaknya bagi Konsumen

Ramai diperbincangkan di jagat maya, beras premium kemasan 5 kilogram (kg) disebut mulai sulit ditemukan di sejumlah tempat. Kondisi ini kemudian memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena beras merupakan salah satu kebutuhan pokok.

Guru Besar Perilaku Konsumen IPB University, Megawati Simanjuntak, mengatakan situasi ini dapat memengaruhi cara konsumen mengambil keputusan. Ketika mendengar suatu barang mulai sulit ditemukan, konsumen cenderung merasa perlu segera membeli sebelum barang benar-benar habis.

BacaJuga

Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global

Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital

“Ketika kemasan 5 kg mulai langka, masyarakat pasti langsung merasa khawatir. Apalagi kalau masyarakat sudah mendengar barang mulai susah dicari, biasanya langsung terpikir untuk membeli atau menyetok lebih banyak,” ujar Megawati.

Menurut Megawati, beras kemasan 5 kg menjadi salah satu pilihan yang banyak diburu karena sesuai dengan kebiasaan rumah tangga. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara harganya masih relatif terjangkau untuk sekali berbelanja.

“Kemasan 5 kg lebih praktis disimpan dibandingkan kemasan yang lebih besar. Lalu biasanya ukuran 5 kg ini mereknya banyak dan konsumen punya preferensi sendiri untuk beras yang disukai, sehingga banyak konsumen lebih memilih kemasan 5 kg,” katanya.

Karena itu, ketika ukuran yang biasa dibeli sulit ditemukan, konsumen tidak selalu merespons dengan kepanikan. Sebagian dapat memilih produk pengganti yang masih dianggap sesuai. “Ada dua arah perpindahan yang mungkin terjadi terkait fenomena ini,” katanya.

Pertama, konsumen dapat beralih ke ukuran kemasan lain dari merek yang sama, misalnya kemasan 10 kg. Pilihan ini memungkinkan konsumen tetap mendapatkan merek yang biasa dikonsumsi, meski pengeluaran dalam sekali pembelian menjadi lebih besar.

Kedua, konsumen dapat beralih ke pilihan yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, misalnya beras SPHP dari Bulog yang memiliki harga lebih terjangkau.

Ia mengatakan, kondisi ini tidak serta-merta berarti persediaan beras nasional habis atau mengalami kekurangan. Menurutnya, persoalan yang terjadi dapat berkaitan dengan biaya produksi maupun distribusi.

Namun, informasi mengenai kelangkaan yang terus bermunculan dapat memengaruhi persepsi konsumen dan berpotensi memicu panic buying. Dalam kondisi seperti ini, keputusan membeli tidak lagi semata-mata didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga kekhawatiran akan semakin sulitnya memperoleh produk.

Dari perspektif perilaku konsumen, Megawati mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu panik atau ikut-ikutan menimbun beras.

“Masyarakat tidak perlu terlalu panik atau ikut-ikutan menimbun. Beli sesuai kebutuhan saja. Kalau merek yang biasa dibeli tidak tersedia, bisa mempertimbangkan alternatif yang kualitas dan harganya masih sesuai,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan informasi mengenai ketersediaan dan harga beras disampaikan secara jelas kepada masyarakat. Hal ini penting agar konsumen tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan rumor atau kekhawatiran akan kehabisan stok.

Tags: berasipb universitykonsumenpangan
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.