• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Dampak Abu Vulkanik terhadap Tanaman dan Lahan Pertanian

Ketika daun dan batang tanaman tertutup abu vulkanik, proses fotosintesis akan terganggu karena stomata tertutup oleh lapisan abu.

by Admin
Selasa, 8 September 2026
A A
Anak Krakatau Erupsi, BMKG Pantau Dampak &  Soekarno-Hatta Tutup

Pakar Ilmu Tanah IPB University, Iskandar, mengatakan dampak abu vulkanik terhadap tanaman sangat bergantung pada lama tanaman terpapar abu. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan.

“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” ujarnya dalam wawancara secara daring di Bogor, Senin, 7 September 2026.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

Menurutnya, ketika daun dan batang tanaman tertutup abu vulkanik, proses fotosintesis akan terganggu karena stomata tertutup oleh lapisan abu. Kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, bergantung pada berapa lama abu vulkanik menempel pada permukaan daun. “Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen,” katanya.

Iskandar menjelaskan, dampak abu vulkanik terhadap tanaman juga dipengaruhi oleh jarak dari pusat letusan. Di wilayah yang relatif dekat dengan pusat letusan, abu vulkanik yang jatuh masih memiliki suhu cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman.

“Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati,” ujarnya.

Ia mengatakan, lama abu vulkanik bertahan di permukaan lahan juga bergantung pada curah hujan. Abu vulkanik, terutama yang memiliki lapisan tipis, relatif mudah terbawa oleh aliran air hujan.

Semakin jauh dari pusat letusan, ukuran butiran abu vulkanik umumnya semakin halus dan ringan. Sementara itu, di sekitar pusat letusan, material yang dikeluarkan bukan lagi berupa debu, tetapi dapat berupa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu.

Terkait penanganan lahan pertanian yang terdampak abu vulkanik, Iskandar menyarankan agar lahan segera diolah setelah hujan abu berakhir dan masyarakat sudah dapat kembali beraktivitas secara normal, terutama jika lapisan abu yang menutupi lahan relatif tipis.

Namun, apabila lapisan abu cukup tebal, pengolahan tanah akan menjadi lebih berat. Menurutnya, abu vulkanik sebaiknya tidak langsung dibuang, tetapi dapat dicampurkan dengan tanah. Selanjutnya, kondisi tanah perlu diperiksa, antara lain melalui pengukuran pH dan daya hantar listrik (DHL).

Iskandar menyebut sebaran abu vulkanik juga dapat menjadi salah satu proses alami yang berpotensi membantu menyuburkan kembali tanah yang telah mengalami degradasi.

“Begitu abu vulkanik yang ada di permukaan tanah terkena air hujan, maka akan dilepaskan berbagai macam unsur yang bermanfaat sebagai hara tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K) dan lain-lain,” katanya.

Karena itu, ia berharap hujan abu vulkanik tidak berlangsung dalam waktu lama sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal dan lahan pertanian dapat segera dipulihkan.

“Jadi semoga saja ‘hujan’ abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur,” katanya.

Tags: abu vulkanikanak krakatauErupsiipb universitypertanian
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.