• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Dampak Kekerasan Seksual Keluarga terhadap Tumbuh Kembang Anak

Korban berpotensi mengalami trust issues, menarik diri dari lingkungan, hingga kesulitan menjalin relasi ketika memasuki usia remaja.

by Tim Prohealth
Jumat, 31 Juli 2026
A A
HARI PEREMPUAN SEDUNIA 2023: Perempuan Paling Banyak Jadi Korban Kekerasan Seksual

Ilustrasi perempuan korban kekerasan seksual dalam intimidasi. (Sumber ilustrasi: Canva/2023)

Kasus kekerasan seksual terhadap anak yang melibatkan orang terdekat dalam lingkungan keluarga kembali menyoroti pentingnya perlindungan anak. Alih-alih menjadi tempat yang aman, keluarga dapat menjadi ruang yang meninggalkan luka ketika kepercayaan disalahgunakan oleh pihak yang seharusnya melindungi.

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Primatia Yogi Wulandari, memandang pelecehan seksual tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis anak. Namun juga mempengaruhi cara anak memandang dirinya, orang lain, hingga hubungan sosial di masa depan.

BacaJuga

Mengapa Indonesia Menolak Pernyataan Resmi Pengendalian Tembakau dan Hipertensi di RC77

KPAI: Tragedi Kekerasan Anak Jangan Hanya Lahirkan Aturan Reaktif

Primatia menjelaskan kedekatan hubungan keluarga tidak serta-merta menjamin keamanan bagi anak. Dalam banyak kasus, pelaku justru memanfaatkan relasi kuasa yang dimiliki terhadap korban.

“Dalam perspektif psikologi perkembangan, pelecehan seksual dalam keluarga menjadi hal yang sangat serius karena pelakunya adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi sosok pelindung. Ketika kepercayaan itu dikhianati, yang terganggu bukan hanya emosi anak, tetapi juga proses perkembangannya,” ujarnya.

Ia menambahkan perbedaan usia dan otoritas antara orang dewasa dengan anak menciptakan ketimpangan kuasa yang dapat dimanfaatkan pelaku. Oleh karena itu, pendidikan mengenai tubuh, batasan privasi, dan persetujuan perlu dikenalkan sejak dini.

“Perlindungan anak bukan hanya mengajarkan mereka berhati-hati terhadap orang asing, tetapi juga membangun pemahaman bahwa setiap anak berhak menjaga batasan tubuhnya, sekalipun dengan orang yang dikenal,” jelasnya.

Menurutnya, respons setiap anak terhadap kekerasan seksual tidak dapat disamaratakan. Sebagian anak mungkin menunjukkan perubahan perilaku, sementara yang lain tampak baik-baik saja meskipun mengalami luka psikologis yang mendalam.

“Korban dapat mengalami rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan tidur dan berkonsentrasi. Namun, tidak semua anak memperlihatkan tanda yang sama. Karena itu, kita tidak bisa menilai berat atau ringannya dampak hanya dari perilaku yang tampak,” tuturnya.

Ia menjelaskan pengalaman kekerasan seksual dalam keluarga dapat mempengaruhi kemampuan anak membangun hubungan sosial. Korban berpotensi mengalami trust issues, menarik diri dari lingkungan, hingga kesulitan menjalin relasi ketika memasuki usia remaja. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tersebut dapat dipulihkan apabila anak memperoleh perlindungan dan pendampingan yang tepat.

Ia menekankan bahwa pencegahan kekerasan seksual tidak boleh dibebankan kepada anak semata. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.

Menurut dia, yang perlu kita ciptakan bukan hanya anak yang aman secara fisik, tetapi juga anak yang merasa aman untuk bercerita. “Ketika anak berani mengungkapkan pengalamannya, respons pertama orang dewasa haruslah mendengarkan, mempercayai, dan melindungi, bukan menyalahkan atau mempertanyakan ceritanya,” katanya.

Tags: kekerasan seksualkorbanpelecehan seksualuniversitas airlangga
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.