• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Indonesia Jadi Negara Ketiga Penguji Target Vaksin 100 Hari, Antisipasi Pandemi Baru

Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II.

by Admin
Jumat, 4 September 2026
A A
Indonesia Jadi Negara Ketiga Penguji Target Vaksin 100 Hari, Antisipasi Pandemi Baru

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi baru atau “Penyakit X” di Jakarta, Kamis, 3 September 2026. Melalui Tabletop Exercise (TTX) bertajuk Misi 100 Hari, pemerintah menguji kecepatan respons nasional dalam pengembangan dan produksi vaksin dalam waktu 100 hari sejak patogen baru teridentifikasi.

Simulasi yang berlangsung selama dua hari melibatkan lebih dari 120 pakar dari unsur kementerian/lembaga, akademisi, industri, dan lembaga penelitian, hingga otoritas regulasi. Para peserta membedah skenario fiktif wabah “Nipah-X”, sebuah patogen mutasi yang dapat menyebabkan kematian dan ditularkan dari hewan ternak yang menular cepat ke manusia melalui kontak langsung. Patogen ini juga digambarkan dapat ditularkan antar manusia dan berpotensi menyebabkan pandemi.

BacaJuga

Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi pandemi harus dipandang setara dengan investasi pertahanan negara. Menurutnya, sejarah membuktikan wabah penyakit mematikan mampu melumpuhkan populasi global lebih parah dibandingkan konflik bersenjata.

“Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II. Karena itu, kita harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Budi.

Misi 100 Hari merupakan target ambisius global untuk memangkas waktu pengembangan vaksin menjadi lebih cepat. Sehingga memungkinkan respon vaksin yang lebih dini untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.

Untuk mengejar target ini, Indonesia tengah mengintegrasikan ekosistem deteksi dini. Ini mulai dari pengembangan perangkat uji cepat portabel (Point-of-Care Testing/POCT) di layanan primer, hingga peningkatan kapasitas sekuensing genom di berbagai daerah

Dari sisi kemandirian produksi, pemerintah juga menggandeng produsen vaksin nasional seperti PT Bio Farma, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia, PT Biotis Pharmaceuticals agar siap melakukan manufaktur massal saat terjadi pandemi.

Direktur Utama CEPI Richard Hatchett menilai Indonesia memiliki peran vital dalam ketahanan kesehatan regional. Kemajuan riset, manufaktur, dan sistem regulasi di Indonesia dianggap mumpuni untuk mendukung target Misi 100 Hari.

“Indonesia adalah mitra strategis CEPI. Latihan simulasi seperti ini membantu membangun hubungan dan kesiapan operasional, serta mengidentifikasi celah yang harus ditutup agar respons terhadap wabah berikutnya bisa jauh lebih cepat,” kata Hatchett.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menjamin percepatan penemuan vaksin darurat tidak akan mengorbankan standar keselamatan pasien. BPOM saat ini tengah mematangkan skema persetujuan bersyarat guna melengkapi mekanisme Persetujuan Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization/EUA).

“Percepatan inovasi tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat. Percepatan tidak boleh berarti berkompromi terhadap standar tersebut,” kata Taruna.

Simulasi Misi 100 Hari ini menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia—setelah Korea Selatan dan Rwanda—yang menguji langsung rantai respons pandeminya secara menyeluruh bersama CEPI, mulai dari biosurveilans hingga distribusi logistik medis.

Tags: budi gunadi sadikinkementerian kesehatanpandemivaksin
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.