• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Rabu, November 4, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Karhutla Ancam Kesehatan dan Masa Depan Anak

by Ahmad Khudori
Rabu, 4 November 2026
A A
Karhutla Ancam Kesehatan dan Masa Depan Anak

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhulta) terhadap anak-anak. Kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia ini menimbulkan kabut asap dan menurunkan kualitas udara.

IDAI mengungkapkan temuan itu dalam diskusi daring bertajuk “Dampak Karhutla dan Meningkatnya Pneumonia pada Anak: Bagaimana Peran Dokter Spesialis Anak?” pada Selasa, 3 November 2026.

BacaJuga

WALHI Dorong Indonesia Ajukan Inisiatif pada Pasal UNFCCC untuk Akui Penjaga Alam di COP 31

Krisis Karhutla Bukti Kegagalan Komitmen Sawit Berkelanjutan, RSPO Didesak Bertanggung Jawab

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan pemerintah harus segera memadamkan seluruh kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, pemerintah perlu meminta bantuan negara tetangga apabila tidak mampu menangani kebakaran itu secara mandiri.

Piprim, yang juga Dokter Spesialis Anak Subspesialis Kardiologi, menjelaskan udara bersih merupakan hak asasi manusia. Oleh karena itu, negara berkewajiban menyediakan udara bersih bagi seluruh warga negara, termasuk anak-anak.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026, tercatat sebanyak 333.470 kasus infeksi pernapasan atas (ISPA) secara kumulatif di wilayah kebakaran hutan dan lahan. Dari jumlah itu, sebanyak 70.239 kasus terjadi pada anak di bawah lima tahun.

“Langkah seperti memakai masker atau berdiam di rumah hanya bersifat sementara dan bukan solusi utama. negara wajib untuk menyiapkan ee udara bersih bagi warganya,” kata Piprim kepada peserta diskusi.

Ia menambahkan, kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang serta berlangsung dalam waktu lama dapat mengancam pertumbuhan anak. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengubah target terwujudnya “Generasi Emas 2045” menjadi “Generasi Cemas”.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Khairiadi Ismail, mengatakan kebakaran hutan dan lahan menghasilkan berbagai polutan berbahaya. Polutan itu meliputi particulate matter (PM 10 dan PM 2,5), karbon monoksida, ozon permukaan (ground ozone), nitrit oksida, dan gas aldehid.

Menurut Khairiadi, PM 2,5 yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan memiliki risiko kesehatan terhadap saluran pernapasan beberapa kali lebih tinggi dibandingkan PM 2,5 yang berasal dari gunung berapi. Ia mencontohkan kondisi di Kalimantan Selatan, ketika kadar PM 2,5 sempat mencapai level maksimum 37.726 µg/m³.

Khairiadi menilai kebakaran lahan gambut di Kalimantan sulit dipadamkan. Pasalnya, api dapat membakar lapisan gambut di bawah permukaan tanah dan terus membara selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

“Api baru bisa padam total jika ada hujan deras yang menggenangi lahan. Kondisi ini dipengaruhi organisasi fenomena El Nino tahun 2026 memperpanjang masa kemarau dari Mei hingga Oktober ini,” ujarnya.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan luas kebakaran hutan dan lahan secara nasional meningkat 69 persen dibandingkan tahun 2025. Kebakaran itu menghanguskan 202.004 hektar lahan sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Khairiadi menambahkan, kondisi turut memicu lonjakan kasus ISPA di Kalimantan Selatan. Pada September 2026, jumlah kasus ISPA di wilayah itu mencapai 182.710 kasus. Selain itu, kasus pneumonia dan kekambuhan serangan asma juga kerap terjadi.

Ia menjelaskan anak-anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun, menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak kabut asap. Kerentanan ini disebabkan sistem kekebalan tubuh mereka yang belum matang serta laju pernapasan yang lebih cepat. Sementara, terhadap anak-anak berusia 5-9 tahun berisiko mengalami dampak buruk karhutla karena masih banyak aktivitas di luar ruangan.

Paparan polusi berat juga berdampak terhadap ibu hamil dan bayi yang baru lahir. Kondisi ini berisiko menyebabkan Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT), Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), serta hipoksia janin terutama jika ibu yang memiliki riwayat asma. Bukan hanya itu, paparan polusi juga dapat meningkatkan kelahiran prematur.

Khairiadi mengatakan anak-anak dengan riwayat asma, penyakit jantung atau paru, malnutrisi, serta gangguan sistem kekebalan tubuh memiliki resiko lebih tinggi mengalami gangguan dua kali lipta kesehatan akibat paparan asap.

Kerentan itu juga meningkat pada anak-anak dan warga yang tinggal di rumah panggung berbahan kayu yang berada di atas lahan gambut. Pasalnya, kabut asap dapat mudah menyebar dan masuk ke dalam rumah.

Paparan asap di dalam ruangan dapat menyebabkan penumpukan PM2,5 hingga 30-82 persen dari konsentrasi di luar ruangan. Partikel halus ini dapat masuk melalui celah pada jendela, pintu, dan bagian lain dari struktur bangunan.

Asap kebakaran hutan dan lahan juga memicu peradangan saluran pernapasan tanpa disertai infeksi, memperburuk kondisi asma, serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas bawah. Ketiga kondisi itu memiliki mekanisme yang berbeda, tetapi menunjukkan gejala klinis yang serupa.

“Setidaknya ada 3 mekanisme kerusakan pada saluran napas, pertama stres oksidatif dan inflamasi, kerusakan silia dan barier epitel saluran napas, penurunan daya tahan sistem imun atau fagosit saluran napas terhadap patogen,” ujarnya.

Khairidi juga menyoroti penggunaan masker pada anak di bawah 5 tahun. Menurutnya, penggunaan masker pada kelompok usia ini kurang efektif karena anak-anak umumnya merasa tidak nyaman dan cenderung melepas masker setelah 1 hingga 2 jam digunakan.

Sebagai langkah perlindungan, ia menyarankan pemerintah menyediakan “Rumah Aman” bagi warga terdampak yang tidak dapat mengungsi ke luar daerah. Fasilitas ini diharapkan dilengkapi dengan alat pemurni udara dan suplai oksigen.

IDAI juga mendesak pemerintah dan Dinas Kesehatan untuk memisahkan pencatatan data kasus ISPA, pneumonia, dan eksaserbasi asma secara spesifik. Pemisahan data itu diperlukan agar pemerintah dapat melakukan pemetaan dan menentukan penanganan medis secara lebih akurat.

Selain itu, IDAI juga menghimbau orang tua agar tidak membiarkan anak-anak langsung bermain air saat hujan pertama turun setelah kebakaran hutan dan lahan. Imbauan it berkaitan dengan kekhawatiran air hujan yang masih mengandung atau bereaksi dengan gas-gas polutan berbahaya.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani meminta pemerintah untuk secepatnya menyelesaikan persoalan kebakaran hutan dan lahan. Bagi orang tua, kata Puan, anak yang mengalami gangguan kesehatan menghadirkan kecemasan yang dekat dan mendesak bagi orangtuanya.

Menurut Puan, laporan masyarakat dari berbagai daerah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan menunjukkan genting nya persoalan ini. Pemerintah juga diminta untuk menempatkan perlindungan anak sebagai tujuan bersama dalam penangan

“Setiap orang tua ingin melihat anaknya bisa menjalankan aktivitas dengan nyaman, tidur dengan tenang, dan kembali bermain. Harapan ini harus menjadi perhatian utama kita dalam menentukan langkah penanganan.”

Tags: IDAIidai anakkebakaran hutankebakaran hutan dan lahanKesehatan
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • ELSAM dan FITRA Bicara Skandal Penyadapan, Desak Pengawasan Independen dan Transparansi Alat Sadap
  • YLBHI: Usut Tuntas Penyadapan Ilegal, Bongkar Rantai Perintah, Lindungi Warga, dan Batasi Kekuasaan Aparat
  • Karhutla Ancam Kesehatan dan Masa Depan Anak
  • WALHI Dorong Indonesia Ajukan Inisiatif pada Pasal UNFCCC untuk Akui Penjaga Alam di COP 31
  • Krisis Karhutla Bukti Kegagalan Komitmen Sawit Berkelanjutan, RSPO Didesak Bertanggung Jawab
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.