• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Kasus ISPA Melonjak akibat Kemarau dan Karhutla, Bagaimana Strategi Perlindungan Diri

Paparan kabut asap dan partikel debu yang mudah beterbangan ketika tanah dan rumput mengering menyebabkan gangguan pernapasan.

by Prohealth
Jumat, 4 September 2026
A A
Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara untuk Cegah Dampak Asap Karhutla

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) mengalami peningkatan signifikan. Data Kementerian Kesehatan mencatat, sebanyak 13.449 kasus ISPA telah dilaporkan sepanjang Juli hingga Agustus 2026 di wilayah yang terdampak.

Kasus ISPA sering terjadi baik akibat musim kemarau, hingga bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi belakangan ini. Paparan kabut asap dan partikel debu yang mudah beterbangan ketika tanah dan rumput mengering menyebabkan gangguan pernapasan.

BacaJuga

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Pemerintahan Klaim Peningkatan Cek Kesehatan Gratis dan Penanganan Tuberkulosis

Dokter Spesialis Paru dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Ika Trisnawati, menjelaskan pada musim kemarau, kasus gangguan saluran pernapasan termasuk pada ISPA, cenderung lebih banyak ditemukan. Saat kemarau, partikel debu yang berada di tanah maupun udara lebih mudah terbawa angin dan masuk ke saluran pernapasan.

“Adanya peningkatan ISPA di periode musim kemarau itu karena pada saat kemarau tentu saja akan banyak partikel debu. Partikel-partikel debu kecil yang terbawa oleh angin berada di udara bebas dan kemudian terhirup di pernapasan,” katanya. Kamis, 3 September 2026. di laman UGM.

Ika menuturkan, individu dengan penyakit paru kronis menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami gangguan akibat paparan udara yang tercemar. Kelompok ini antara lain penderita asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akibat rokok, tuberkulosis paru, dan kanker paru.

Selain itu, kata dia, masyarakat dengan penyakit kronis lain seperti diabetes, penyakit jantung, serta gagal ginjal juga termasuk kelompok yang rentan mengalami ISPA. Ia juga menambahkan, lansia turut memiliki risiko lebih tinggi karena terjadi penurunan fungsi organ, termasuk saluran pernapasan seiring bertambahnya usia.

Sementara itu, anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Ia menjelaskan saluran pernapasan anak masih berkembang dan memiliki diameter lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Kondisi ini membuat saluran napas anak lebih mudah mengalami penyumbatan ketika terjadi peradangan atau penumpukan dahak.

“Kalau terkena infeksi virus seperti influenza ataupun masuk partikel debu, kalau terjadi peradangan, tersumbat oleh dahak, lebih mudah sesak dibanding yang saluran napasnya diameternya lebih besar, yaitu pada usia dewasa,” tuturnya.

Selain kondisi individu, lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi risiko penularan ISPA. Ika menyebut permukiman yang sangat padat menjadi salah satu area yang lebih berisiko karena sirkulasi udara kurang leluasa.

Ketika terdapat penghuni yang mengalami infeksi, penularan melalui percikan pernapasan saat batuk atau bersin menjadi lebih mudah terjadi. “Kalau di pemukiman padat area sirkulasi udaranya itu akan menjadi lebih mudah untuk saling menularkan,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menyatakan risiko juga dapat meningkat pada permukiman dengan kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan yang kurang baik, serta wilayah yang berdekatan dengan sumber pembakaran. Lokasi tersebut antara lain area pembakaran sampah, kawasan industri dengan paparan asap, terminal, maupun jalan raya dengan lalu lintas padat.

Dalam mengenali gejala ISPA, ia mengatakan fenomena yang umum terjadi dapat meliputi gejala batuk dan pilek yang menyerang hidung, tenggorokan, maupun saluran pernapasan. Pada kondisi infeksi, gejala juga biasanya dapat disertai demam.

Batuk pada awal infeksi virus umumnya kering, sedangkan batuk dengan dahak yang berubah warna menjadi kekuningan dapat menunjukkan adanya infeksi bakteri. “Kalau untuk ISPA ringan yang disebabkan paparan debu dan asap sesaat. Umumnya kondisinya dapat membaik dalam tiga hingga lima hari,” katanya.

Namun demikian, ia mengimbau untuk masyarakat agar memeriksakan diri apabila keluhan tidak membaik atau justru semakin berat. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain demam yang tidak turun, dahak semakin banyak dan berubah warna menjadi kekuningan, serta sesak napas yang memburuk.

Terkhusus pada anak-anak yang lebih rentan terjangkit ISPA disertai dengan gejala suara mengi atau “ngik-ngik” saat bernapas perlu segera diperiksakan. “Pemeriksaan dapat dimulai di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau layanan kesehatan primer. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan pentingnya menghindari pembakaran sampah, khususnya pada musim kemarau. Ia menyebut, hasil pembakaran sampah rumah tangga atau karhutla terdiri atas berbagai material dapat menghasilkan partikel dan zat yang berpotensi membahayakan kesehatan pernapasan. “Paparan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kerusakan paru dan kanker paru,” ucapnya.

Ia juga menganjurkan masyarakat untuk senantiasa menggunakan masker ketika sedang mengalami flu untuk mencegah penularan kepada orang di sekitar. Penggunaan masker juga dapat membantu mengurangi paparan ketika harus beraktivitas di lingkungan yang berdebu atau berasap.

Penerapan gaya hidup sehat juga penting dilakukan untuk menjaga daya tahan tubuh, termasuk dengan berolahraga, makan bergizi, serta istirahat cukup. “Istirahat yang cukup, berolahraga dengan memilih lingkungan yang tidak banyak terpapar debu dan asap, hingga makan makanan bergizi setidaknya dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan ISPA,” kata Ika.

Tags: ISPAkarhutlakebakaran hutan dan lahanugmuniversitas gadjah mada
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.