• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Menjemput Sakit di Langit, Melupakan Akar Masalah di Bumi

Kebijakan populis ini salah kaprah dan berpotensi menjadi pemborosan anggaran berjemaah di tengah kondisi fiskal yang sedang defisit.

by Prohealth
Rabu, 26 Agustus 2026
A A
Strategi Gencarkan Kualitas dan Kuantitas Tenaga Kesehatan

Ilustrasi kedokteran. (Sumber: Canva/2023)

Pemerintah baru saja mengumumkan rencana pengadaan ambulans udara dan tim dokter terbang nasional dalam Sidang Paripurna DPR RI terkait penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan. Ide memborong helikopter medis ini sekilas terdengar sangat mulia untuk menyelamatkan nyawa di pulau terpencil.

Namun, jika kita berpikir jernih, menyediakan dokter terbang adalah niat yang baik, namun didasari oleh cara pandang yang keliru. Kebijakan populis ini salah kaprah dan berpotensi menjadi pemborosan anggaran berjemaah di tengah kondisi fiskal yang sedang defisit.

BacaJuga

6 Tahun Prohealth.id: Urgensi Isu Kesehatan bagi Penguatan Kontrol Publik

Rokok, Penyelamat Palsu Mental Rapuh

Ada tiga alasan kuat mengapa ide dokter terbang ini keliru secara logika. Pertama, gagasan ini gagal di hadapan hukum alam. Indonesia sering dilanda cuaca buruk dan badai tropis. Helikopter medis memiliki batas aman kecepatan angin yang sangat ketat.

Saat musim angin barat tiba dan ombak laut mengamuk, angin di udara justru jauh lebih berbahaya sehingga armada udara dipastikan dilarang terbang demi keselamatan. Artinya, saat warga pelosok paling membutuhkan pertolongan, ambulans udara ini justru akan ikut lumpuh bersama ambulans laut.

Kedua, kebijakan ini salah alamat karena hanya mengobati akibat di hilir, tapi membiarkan program pencegahan atau preventif di hulu hancur lebur. Mengapa banyak ibu hamil mengalami komplikasi dan anak-anak di pelosok terkena infeksi paru-paru akut? Jawabannya ada pada lemahnya komitmen pemerintah menjaga kesehatan dasar rakyat.

Paparan asap rokok terbukti menjadi pemicu utama kehamilan berisiko tinggi, bayi lahir prematur, dan balita terkena infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA. Membiarkan rokok bebas beriklan, menjaga harga rokok tetap terjangkau masyarakat pra-sejahtera dan anak-anak, dan lemahnya penegakan peraturan kawasan tanpa rokok jelas tidak sejalan dengan semangat pembatasan zat berbahaya dalam Undang-Undang Cukai.

Begitu pula dengan pembiaran pembakaran hutan setiap tahun yang memicu sakit pernapasan massal dan melanggar Undang-Undang Lingkungan Hidup. Sungguh aneh jika negara membiarkan kebun dibakar, laut dan sungai dikotori limbah, dan rokok merajalela di hulu, lalu dengan bangga menyediakan helikopter mahal di hilir untuk menjemput rakyat yang sekarat.

Ketiga, helikopter itu kosong tanpa arti jika fasilitas di darat hancur. Masalah paling mendasar di pelosok adalah puskesmas kita kosong tanpa dokter, obat sering habis, dan listrik mati setengah hari. Membawa pasien dengan helikopter mahal hanya memindahkan orang sakit dari puskesmas kosong ke Rumah Sakit Daerah yang alat medisnya juga rusak.

Solusi yang lebih realistis dan membumi untuk 287 juta rakyat Indonesia bukan membeli mainan baru di langit, melainkan memperkuat pertahanan kesehatan dan program pencegahan di darat.

Uang triliunan rupiah APBN yang sedianya dipakai untuk membeli avtur dan merawat helikopter, jauh lebih berguna jika dialokasikan sebagai mayoritas anggaran untuk mengunci program preventif: mengendalikan rokok secara radikal, memperluas vaksinasi anak, serta membangun sarana air bersih agar anak pelosok bebas dari penyakit cacingan dan diare.

Di sisi fasilitas, pastikan puskesmas pelosok memiliki ruang operasi kecil yang layak dan listrik stabil dari panel surya selama 24 jam. Daripada uang negara habis untuk menyewa pilot, lebih baik digunakan untuk membayar insentif yang tinggi bagi dokter agar mau menetap di daerah pelosok sesuai dengan semangat Undang-Undang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah.

Jika pertahanan di darat dan program pencegahannya sudah kuat, rakyat bisa hidup sehat tanpa perlu mempertaruhkan nyawa terbang menembus badai.

Sebagai warga negara, kita harus mulai cerdas dan kritis. Jangan gampang percaya pada janji manis program mewah yang didasari cara pandang yang keliru. Proyek pengadaan barang berteknologi tinggi yang dipaksakan rawan menjadi celah korupsi berjemaah demi kelanggengan masa jabatan golongan tertentu.

Rakyat membutuhkan air bersih, udara bebas asap karhutla, obat murah, vaksin lengkap, dan dokter yang siaga di desa, bukan hanya omongan evakuasi di awan-awan.

Rahma Indira Wardani, Pengurus Komite Nasional Pengendalian Tembakau

Tags: dokterdokter terbangpuskesmasrumah sakitvaksin
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.