• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Pakar Imbau Masyarakat Tidak Beri Label Bodoh pada Anak Disleksia

by Tim Prohealth
Selasa, 29 September 2026
A A
Asap Rokok Perbesar Risiko Tuberkulosis pada Anak

Disleksia kerap kali disalahartikan oleh sebagian masyarakat sebagai tanda bahwa seorang anak malas atau kurang berpengetahuan. Padahal, disleksia merupakan kondisi spesifik yang sama sekali tidak berhubungan dengan tingkat kecerdasan anak.

Membahas lebih mendalam mengenai fenomena ini, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Irwanto, memaparkan persepsi medis mengenai disleksia. Mulai dari tanda-tanda awal, dampak psikologis, hingga pentingnya evaluasi objektif agar anak tidak mendapat cap negatif.

BacaJuga

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Pemerintahan Klaim Peningkatan Cek Kesehatan Gratis dan Penanganan Tuberkulosis

Secara etimologi dan klinis, kata disleksia berasal dari dua kata, yaitu dis (kesukaran) dan leksia (bahasa). Secara medis, disleksia didefinisikan sebagai kesukaran dalam berbahasa. Baik berupa kemampuan berbicara, membaca, menulis, maupun berbahasa sosial.

“Disleksia merupakan kesukaran dalam berbahasa, hal tersebut sangat berbeda dengan gangguan belajar. Jika gangguan belajar adalah masalah kesulitan di dalam prosesor kognitifnya, anak disleksia belum tentu ada masalah dengan kognitifnya,” terang Prof Irwanto.

Mengenali disleksia pada anak di bawah usia lima tahun (prasekolah) terbilang cukup menantang. Pasalnya, anak-anak baru mulai belajar mengenal huruf dan menyusun kalimat secara utuh pada usia lima tahun ke atas.

“Sedikit susah jika mengetahui tanda disleksia di usia lima tahun, karena biasanya anak-anak mulai belajar huruf dan berbicara secara utuhnya itu saat usia lima tahun ke atas. Itulah kenapa lebih mudah ditemukan pada anak saat masuk sekolah,” ujar dokter spesialis anak ini.

Untuk deteksi dini di rumah, orang tua dapat memanfaatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk memantau grafik perkembangan bahasa anak hingga usia lima tahun. Selain itu, tanda khas yang sering ditemukan adalah kekeliruan atau pengucapan yang terbalik.

“Jika terdapat pengucapan yang salah, misalnya buka menjadi buku, hal tersebut langsung dikonsultasikan kepada dokter anak untuk kemungkinan screening apakah dia disleksia atau tidak,” imbaunya.

Di Indonesia, belum ada sekolah formal khusus bagi anak dengan disleksia. Oleh sebab itu, penanganan utama yang sangat efektif adalah melalui intervensi terapi. Pemerintah Kota Surabaya telah menyediakan fasilitas terapi di Balai Pemuda yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Jika ditemukan anak dengan diagnosa disleksia maka harus dilakukan suatu terapi. Kebetulan Pemerintah Kota Surabaya menyediakan secara gratis selama tiga bulan,” ujarnya.

Sebagai penutup, Prof Irwanto menyampaikan pesan mendalam bagi para orang tua dan tenaga pendidik agar tidak terburu-buru memberikan stigma negatif kepada anak yang mengalami kesulitan belajar.

“Penting untuk tidak melabeli anak disleksia tanpa ada suatu evaluasi secara objektif. Anak disleksia itu memiliki kognitif yang bagus, jadi masyarakat tidak berhak melabeli mereka sebagai anak yang bodoh,” katanya.

Tags: AnakDisleksiaguru besarUnair
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.