• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Pameran Keliling PBB Angkat Sejarah Perbudakan Kolonial dan Perlawanan di Indonesia

by Admin
Kamis, 1 Oktober 2026
A A
Pameran Keliling PBB Angkat Sejarah Perbudakan Kolonial dan Perlawanan di Indonesia

Pusat Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIC) di Indonesia dan Universitas BINUS hari ini membuka rangkaian pameran poster bertajuk “Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery” (Perbudakan: Sepuluh Kisah Nyata Perbudakan Kolonial Belanda) yang dikembangkan oleh Rijksmuseum di Amsterdam.

Dipamerkan di Universitas BINUS pada tanggal 29–30 September, pameran ini mengajak mahasiswa dan masyarakat luas untuk menyelami sejarah perbudakan melalui kisah hidup individu. Termasuk mereka yang diperbudak, mereka yang melakukan perlawanan, serta mereka yang mengambil keuntungan dari sistem tersebut.

BacaJuga

Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global

Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital

Kisah-kisah dalam pameran ini menjangkau wilayah Belanda, Indonesia, Suriname, Karibia, dan berbagai tempat lain yang terhubung dengan penjajahan Belanda. Benda-benda bersejarah yang ditampilkan mengungkapkan bagaimana perbudakan membentuk kehidupan di seluruh jaringan ini. Beberapa kisah mengarah langsung ke Nusantara, termasuk Batavia, Kepulauan Banda, dan Jawa.

Di antaranya adalah Untung Surapati, yang diperbudak di Bali lalu melarikan diri dari Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Untung memelopori perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Pada akhirnya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia, menjadikan kisahnya sebagai representasi sosok yang dikenal luas dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kisah lainnya mengangkat nasib enam individu yang diperdagangkan dari Teluk Benggala dan disebarkan melalui jaringan VOC, termasuk ke wilayah Batavia dan Kepulauan Banda.

Direktur UNIC Indonesia, Miklos Gaspar, mengatakan perlunya membicarakan sejarah perbudakan agar orang-orang yang mengalaminya tidak terlupakan, dan agar kita dapat memahami bagaimana ketidakadilan pada masa itu sempat dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Pelajaran tersebut sangat penting saat ini.

“Perbudakan tidak hanya terbatas di masa lalu: masih ada orang-orang yang menjadi korban atas praktik kerja paksa, dan berbagai bentuk perbudakan modern lainnya. Mengingat sejarah ini akan memperkuat komitmen kita untuk melindungi kebebasan semua orang,” katanya.

Sebuah diskusi yang digelar bersamaan dengan pembukaan pameran ini, bertajuk “Perbudakan, Masa Lalu dan Masa Kini: Menghadapi Ketidakadilan Sejarah dan Bentuk Eksploitasi Kontemporer,” mempertemukan sejarawan Asep Kambali, Miklós Gáspár, dan Lili Yulyadi.

Para pembicara mendiskusikan keterkaitan perbudakan kolonial Belanda dengan Indonesia, serta bagaimana pengalaman individu dilestarikan dan direpresentasikan. Mereka juga membahas apa yang dapat diajarkan oleh sejarah ini kepada kita tentang eksploitasi masa kini dalam kaitannya dengan tanggung jawab bersama.

Bagi Universitas BINUS, menjadi tuan rumah bagi pameran dan diskusi ini memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengeksplorasi sejarah melalui pengalaman individu. Ini sekaligus merefleksikan bagaimana masa lalu terus membentuk pemahaman kita tentang kebebasan, martabat, dan tanggung jawab.

Program ini juga mendorong generasi muda untuk terlibat dengan kisah dan materi sejarah sekaligus mempertimbangkan relevansinya bagi masyarakat saat ini.

Rini Setiowati, Wakil Rektor Bidang Kolaborasi & Keterlibatan Global, Universitas BINUS, mengatakan pameran dan diskusi ini menawarkan kesempatan bagi kita untuk memahami perbudakan tidak hanya sebagai sebuah sistem sejarah, tetapi melalui pengalaman orang-orang yang melewatinya.

Dengan menggali kisah-kisah mereka, memori sejarah, dan makna kebebasan. “Kami berharap mahasiswa dan masyarakat luas dapat merefleksikan martabat manusia dan bagaimana pemahaman kita tentang masa lalu dapat membentuk rasa tanggung jawab kita hari ini,” kata Rini Setiowati.

Kerangka Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa melarang perbudakan dan perdagangan budak dalam segala bentuknya. Pada bulan Maret 2026, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 80/250, yang membahas perdagangan dan perbudakan berbasis rasial terhadap orang-orang Afrika, serta menyerukan upaya peringatan, pendidikan, dan penelitian yang lebih kuat mengenai sejarah tersebut beserta dampaknya yang berkepanjangan.

Meskipun resolusi ini membahas sejarah yang spesifik, penekanannya pada kebenaran dan pendidikan memperkuat betapa pentingnya mempelajari sejarah perbudakan lainnya, termasuk yang berkaitan erat dengan Indonesia.

Felicia Chritsty, mahasiswa Komunikasi Pemasaran, B29, Universitas BINUS, menyatakan salah satu kisah yang menarik perhatiannya adalah kisah Untung Surapati. Ia belajar bagaimana dia diperbudak di Bali, melarikan diri dari VOC di Batavia, dan kemudian menjadi tokoh yang melawan penjajahan.

“Kisahnya menunjukkan kepada saya bahwa pameran ini bukan hanya tentang perbudakan, melainkan juga tentang beragam pengalaman dan perjuangan orang-orang yang mengalaminya,” ujar Felicia Chritsty.

Setelah pembukaannya di Universitas BINUS pada 29–30 September, pameran ini direncanakan akan berlanjut ke Monas pada 23–25 Oktober — bertepatan dengan momen Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Day). Kemudian ke salah satu pusat perbelanjaan (mal) di Jakarta pada 5–8 November 2026.

Tags: Binus UniversitypameranperbudakanUntung Surapati
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.