• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Pemantauan Kualitas Udara Dampak Erupsi Anak Krakatau Diperkuat

by Tim Prohealth
Kamis, 10 September 2026
A A
Apa yang Harus Dilakukan Jika Kena Abu Vulkanik Anak Krakatau

Ilustrasi erupsi gunung berapi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memperkuat pemantauan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang berdampak pada sejumlah wilayah.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono melakukan pemantauan kualitas udara secara langsung di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Rabu, 9 September 2026. Pemantauan dilakukan menggunakan particulate counter untuk mengukur konsentrasi partikulat, khususnya PM2,5.

BacaJuga

Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?

Pemerintah Janji Percepat Pemerataan Dokter Spesialis

Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 di sejumlah area luar ruangan masih berada di atas batas aman. Di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, pengukuran menunjukkan PM2,5 sebesar 63 µg/m³, sementara batas aman PM2,5 adalah 25 µg/m³.

Wamenkes menegaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun aktivitas penerbangan telah dapat berjalan berdasarkan hasil paper test, aspek kualitas udara dari perspektif kesehatan masyarakat tetap perlu diperhatikan.

“Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi,” ujar Dante.

Menurutnya, pengukuran menggunakan particulate counter penting untuk mengetahui konsentrasi partikulat berukuran kecil yang dapat berdampak terhadap kesehatan dan tidak selalu terlihat secara kasatmata.

“Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi,” kata Dante.

Berdasarkan hasil pemantauan Kemenkes pada 8 September 2026, sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya masih menunjukkan konsentrasi PM2,5 dan PM10 yang melebihi batas aman. Pengukuran dilakukan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) menggunakan Air Quality Detector/Particulate Counter.

Dante mengimbau masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker, terutama di wilayah dengan konsentrasi partikulat yang masih tinggi.

“Saya mengimbau kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan tetap menggunakan masker karena particulate matter-nya yang 2,5 masih di atas normal,” ujar Dante.

Abu vulkanik mengandung partikulat dengan berbagai ukuran. Partikel halus seperti PM2,5 dapat terhirup hingga ke dalam paru-paru dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada kelompok rentan.

Kemenkes mencatat hingga 6 September 2026 terdapat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif pada wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang tersebar di 4 provinsi dan 23 kabupaten/kota.

Dari jumlah ini, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun dan 12.988 kasus pada usia di atas 5 tahun.

Dante mengatakan, pemantauan Kemenkes menunjukkan kejadian ISPA pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap gejala gangguan pernapasan.

“Yang paling penting adalah bahwa masyarakat tetap harus waspada. Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk kesehatan,” ujar Dante.

Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan abu vulkanik dan partikulat, antara lain dengan membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara belum baik.

“Misalnya stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Khusus kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit tertentu, Dante meminta agar aktivitas di luar ruangan diminimalkan.

Kemenkes akan terus memantau kualitas udara dan perkembangan dampak kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat.

Tags: anak krakatauErupsierupsi vulkanikkementerian kesehatan
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.