Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Desdiani, mengomentari wacana percepatan pengobatan tuberkulosis (TBC) hingga menjadi hanya satu bulan.
Desdiani mengingatkan perlunya membedakan TBC aktif dan infeksi TBC laten. Beberapa regimen terapi pencegahan untuk TBC laten memang berdurasi lebih singkat. Obatnya, yakni rifapentin dan isoniazid, diminum tiap hari selama satu bulan.
“Beberapa regimen pencegahan untuk TBC laten memang berlangsung satu bulan, tetapi tidak dapat dijadikan dasar bahwa TBC aktif sembuh dalam durasi sama,” katanya.
Menurut dia, kedua kondisi tersebut berbeda secara klinis, sehingga regimen pencegahan TBC laten tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa TBC paru aktif dapat disembuhkan dalam satu bulan. “Jadi pengobatan 1 bulan, hanya untuk TBC Laten, bukan TBC aktif,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pengobatan yang lebih singkat perlu didukung bukti klinis, dan durasi tidak dapat ditetapkan seragam tanpa mempertimbangkan jenis penyakit, kondisi pasien, dan efektivitas terapi. “Pengobatan yang lebih singkat bukan selalu merupakan pilihan yang lebih buruk, tetapi penerapannya harus memiliki dasar penelitian yang kuat,” ujarnya.
Desdiani menjelaskan, regimen standar yang telah lama digunakan untuk kasus baru TBC paru aktif yang sensitif obat umumnya berlangsung enam bulan atau lebih (2HRZE/4HR), tergantung kondisi pasien.
Pada dua bulan pertama, pasien memperoleh kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Pengobatan dilanjutkan empat bulan dengan isoniazid dan rifampisin.
Penelitian menunjukkan durasi dapat dipersingkat dalam kondisi tertentu. Saat ini, terapi TBC aktif paling cepat dapat dipersingkat menjadi empat bulan dengan regimen rifapentin, isoniazid, pirazinamid, dan moksifloksasin. Dasarnya adalah Study 31/A5349 dalam The New England Journal of Medicine (2021), yang menemukan regimen empat bulan tersebut tidak inferior dibandingkan regimen standar enam bulan pada pasien TBC paru sensitif obat yang memenuhi kriteria penelitian. “Artinya, efektivitasnya tidak lebih buruk dari terapi standar dalam batas penilaian yang ditentukan.”
Namun, ia melanjutkan, regimen empat bulan yang diuji tanpa moksifloksasin tidak berhasil membuktikan noninferioritas. “Ini berarti keberhasilan tidak hanya ditentukan lamanya terapi, tetapi juga kombinasi obat,” kata Desdiani. Regimen empat bulan juga dapat diterapkan pada sebagian anak dan remaja dengan TBC nonberat, tetapi tidak untuk semua pasien.
Menurut Desdiani, apabila terapi dihentikan terlalu cepat atau regimen tidak memadai, pasien berisiko mengalami kegagalan pengobatan, meningkatkan risiko kekambuhan, dan berkontribusi terhadap berkembangnya resistensi obat.
“Jika resistensi terjadi, pasien mungkin memerlukan kombinasi obat berbeda, terapi yang lebih kompleks dan berdurasi lebih panjang. Selain itu, pasien TBC paru yang masih menular berisiko terus menularkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya,” kata dia.
Karena itu, ia menganjurkan agar pasien tidak berhenti minum obat sendiri ketika batuk mereda. Bila ada efek samping atau kesulitan menjalani terapi, pasien perlu berkonsultasi dengan tenaga medis.
Selagi obat baru diuji, menurutnya, upaya mempercepat penanganan sebaiknya difokuskan pada diagnosis dini, kemudahan pemeriksaan, ketepatan terapi, ketersediaan obat, dan pendampingan pasien hingga pengobatan selesai.
Keberhasilan program diukur dari pasien yang menuntaskan regimen tepat dan terhindar dari kekambuhan. “Durasi satu bulan sendiri masih berupa potensi kandidat obat, dan penggunaannya bergantung pada hasil uji klinis serta persetujuan otoritas terkait,” katanya.

Discussion about this post