• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Petani Mangga Indonesia Pelajari Praktik Baik di Filipina, Difasilitasi FAO

Indonesia memproduksi 3 juta metrik ton mangga pada tahun 2025, namun nilai ekspornya turun sebesar 37% menjadi 1,1 juta USD pada tahun yang sama.

by Admin
Senin, 3 Agustus 2026
A A
Petani Mangga Indonesia Pelajari Praktik Baik di Filipina, Difasilitasi FAO

Para petani mangga Indonesia telah menyelesaikan kunjungan studi selama satu minggu ke Filipina, salah satu negara pengekspor mangga terkemuka di Asia, sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi salah satu komoditas buah unggulan Indonesia ini secara berkelanjutan. Kunjungan studi yang berlangsung pada 27 hingga 31 Juli ini difasilitasi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) serta otoritas pertanian di kedua negara.

Perwakilan kelompok tani mangga dari Majalengka, Jawa Barat, yang dikenal dengan varietas premium gedong gincu, mendapatkan kesempatan belajar secara langsung melalui kunjungan ke perkebunan dan pabrik pengolahan mangga di Provinsi Guimaras, rumah bagi varietas mangga pertama di Filipina yang terdaftar dengan Indikasi Geografis (IG). Petani Indonesia didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Pertanian serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

BacaJuga

Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global

Koalisi Masyarakat Sipil Buka Posko Penjaringan Calon Penggugat Komdigi atas Dugaan Pembatasan Konten Digital

Selama kunjungan lapangan, perwakilan Indonesia mempelajari praktik baik Filipina dalam pengendalian hama serta inovasi dalam pengolahan dan penyebaran teknologi yang dapat diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan hasil panen dan memperluas peluang ekspor.

“Mengingat kemiripan kondisi sosial-ekonomi dan iklim Indonesia serta, pertukaran pengetahuan ini menawarkan solusi praktis yang telah terbukti efektif untuk menjawab tantangan bersama kita, yakni solusi yang lebih hemat biaya serta tepat guna bagi kedua negara maupun para petani skala kecil kita,” ujar Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.

Junibert E. De Sagun, Direktur Layanan Bantuan Agribisnis dan Pemasaran Departemen Pertanian Filipina, menyampaikan pandangan serupa dan berharap inisiatif ini juga akan memperkuat kemitraan antara petani, pakar, dan pemerintah di kedua negara.

Ia mengatakan peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan peningkatan daya saing dan perluasan peluang pasar. “Petani kita dapat memperoleh manfaat maksimal dari industri mangga hanya jika kita mampu secara konsisten menghasilkan produk yang aman dan berkualitas tinggi, mengurangi susut pascapanen, memberikan nilai tambah, serta memenuhi persyaratan pasar domestik maupun internasional,” kata De Sagun.

Mangga merupakan salah satu komoditas buah unggulan di kedua negara, namun masih terdapat berbagai tantangan yang memengaruhi produksi, produktivitas, kualitas produk, akses pasar, serta keberlanjutan lingkungan di sektor ini. Permasalahan ini mencakup berbagai hal, mulai dari serangan hama dan penyakit hingga susut pascapanen.

Indonesia memproduksi 3 juta metrik ton mangga pada tahun 2025, namun nilai ekspornya turun sebesar 37% menjadi 1,1 juta USD pada tahun yang sama, sementara nilai impor meningkat 27% menjadi 2,32 juta USD menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Negara tujuan ekspor utama meliputi Uni Emirat Arab, Singapura dan Malaysia.

Sementara itu, Filipina memproduksi sekitar 764.000 metrik ton mangga pada tahun 2024; komoditas ini merupakan buah ekspor terbesar ketiga bagi negara itu dan menopang mata pencaharian sekitar 2,5 juta petani.

“Saya sangat terkesan dengan industri pengolahan mangga amat luar biasa di Filipina. Filipina dapat memproduksi berbagai jenis produk dalam skala besar dengan dukungan kuat dari pemerintah. Kami berharap dapat melihat perkembangan serupa dalam industri mangga di Indonesia,” ujar salah satu peserta, Elvan Setyono, ketua kelompok tani dari Jawa Barat.

Sebelum kunjungan lapangan ini, FAO memfasilitasi rangkaian pertukaran pengetahuan secara virtual selama dua bulan antara petani, perwakilan pemerintah, dan pakar teknis dari Indonesia dan Filipina pada bulan Mei dan Juni 2026.

Sebagai contoh, untuk menanggapi masalah lalat cecid pada mangga di Filipina, petani Indonesia berbagi pengalaman mereka dalam menerapkan pendekatan pengelolaan berbasis wilayah. Sebuah metode sederhana, hemat biaya, dan lebih berkelanjutan untuk mengatasi lalat buah yang dapat diterapkan secara berkelompok di suatu wilayah geografis, alih-alih hanya di lahan pertanian individu.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan FAO dalam memfasilitasi Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (SSTC). Ini mencakup pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta sumber daya teknis dan finansial yang saling menguntungkan terkait pertanian dan sistem pangan di antara dua negara berkembang atau lebih.

Wawasan yang diperoleh dari pertukaran ini akan menjadi bahan masukan bagi otoritas Filipina dalam menyusun Rencana Aksi Pengendalian dan Pengelolaan Lalat Cecid serta Prosedur Operasional Standar untuk Praktik Pertanian yang Baik (GAP). Sementara itu, pemerintah Indonesia juga diharapkan dapat mengadopsi praktik baik dalam manajemen pascapanen dan irigasi guna meningkatkan daya saing serta keberlanjutan sektor mangga di Indonesia.

Tags: FAOIndonesiakesejahteraan petaniPetani
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.