• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Ribuan Titik Panas Bakar Kalimantan, Pentingnya Mitigasi Kebakaran

Hutan yang menjadi salah satu penyangga ekosistem dunia kembali menghadapi ancaman kebakaran yang menimbulkan kerugian bagi lingkungan dan masyarakat.

by Admin
Kamis, 27 Agustus 2026
A A
23.546 Titik Panas Panggang Gambut sebelum Puncak El Nino “Godzilla”

Agustus semestinya menjadi bulan penuh sukacita bagi masyarakat Indonesia. Namun, di tengah semarak perayaan kemerdekaan, berbagai persoalan lingkungan masih menjadi tantangan.

Salah satunya kebakaran hutan di Kalimantan yang hingga kini belum sepenuhnya pulih. Hutan yang menjadi salah satu penyangga ekosistem dunia kembali menghadapi ancaman kebakaran yang menimbulkan kerugian bagi lingkungan dan masyarakat.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

Berdasarkan data satelit NOAA-20 yang disebutkan dalam bahan tersebut, terdapat sekitar 1.487 titik panas, dengan konsentrasi terbanyak berada di wilayah Kalimantan Tengah. Dosen pengajar Program Studi Magister Manajemen Bencana, Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Airlangga, Hijrah Saputra, menyampaikan tanggapannya.

Ia mengatakan kebakaran ini disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor cuaca yang saat ini kita berada dalam musim kemarau El Nino. “Hal ini membuat kondisi cuaca lebih kering dan membuat kebakaran rentan untuk terjadi, ditambah lagi lahan di hutan Kalimantan yang bersifat lahan gambut yang mudah terbakar dan cepat menyebar,” ujar Hijrah, dikutip dari laman Unair, Kamis, 27 Agustus 2026.

Ia juga menambahkan faktor utama lainnya disebabkan oleh manusia yang secara sembarangan melakukan pembukaan lahan oleh industri dan pembalakan liar.

Dampak yang dihasilkan dari massive fire yang terjadi sampai ke negara tetangga merugikan berbagai aspek. Meskipun begitu, Hijrah menilai kesiapan dan kecepatan respon dari pemerintah kurang maksimal.

Menurut dia, meski pemerintah sudah bergerak untuk memberikan bantuan dari unit pemerintah. Seperti BNPB, BMKG, pemerintah daerah, TNI, Polri yang sudah bergerak menangani di lapangan.

“Namun, saya sangat menyayangkan, saat ini Kementerian Kehutanan belum mengeluarkan pernyataan resmi atau konferensi pers soal kondisi terkini, padahal dampaknya sudah mencapai lintas negara seperti di Malaysia dan Brunei,” ujar Hijrah.

Kemudian, kebakaran ini menimbulkan berbagai ancaman kesehatan. Untuk saat ini, kata dia, masyarakat harus waspada terkait asap yang ditimbulkan dari efek kebakaran. Masalah kesehatan yang ditimbulkan seperti kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) melonjak tinggi.
“Terlebih mayoritas anak-anak, remaja, ibu hamil, dan lansia yang menghirup kualitas udara yang termasuk kategori berbahaya untuk dihirup,” ujar Hijrah.

Kementerian Kesehatan mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di Indonesia telah menembus lebih dari 400 ribu kasus per pekan. Kasus ISPA ini termasuk salah satu tren mingguan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, khususnya jika dibandingkan dengan periode awal kemarau tahun lalu.

Dari sisi lingkungan, Indonesia kehilangan paru-paru dunia, vegetasi, dan fungsi ekologis untuk menyimpan karbon yang menghasilkan oksigen dan keseimbangan ekosistem. “Kalau sudah terbakar seperti ini membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun lagi untuk dapat direstorasi untuk dapat pulih kembali,” tutur Hijrah.

Selain itu, terjadi dampak sosial ekonomi yang tak kalah penting. “Artinya banyak sekolah-sekolah yang terpaksa diliburkan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara tetangga. Keterbatasan jarak pandang ini menghambat aktivitas perekonomian di wilayah itu yang harus terhenti,” katanya.

Tags: Infeksi Saluran Pernapasan Ataskarhutlakebakaran hutan dan lahantitik panasuniversitas airlangga
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Sertifikasi Halal Diundur, akibat Tekanan Oligarki Industri Rokok?
  • Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka
  • Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan
  • Monas, Borobudur, dan IKN Bersinar Biru Serukan Perdamaian dan Solidaritas Global
  • Karhutla Membara, Pembiayaan Perusak Hutan Jadi Sorotan di CBD COP17
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.