• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Temuan: Lumut Epifit Potensial Jadi Indikator Kualitas Lingkungan

Lumut memang terlihat sederhana, tetapi keberadaannya dapat menjadi penanda kondisi lingkungan.

by Admin
Rabu, 15 Juli 2026
A A
Temuan: Lumut Epifit Potensial Jadi Indikator Kualitas Lingkungan

Universitas Indonesia (UI) terus mengembangkan inovasi yang berdampak nyata bagi peningkatan kualitas lingkungan. Kali ini, penelitian yang dilakukan oleh Afiatry Putrika, akademisi jenjang doktoral dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), menunjukkan lumut epifit memiliki potensi luar biasa untuk dimanfaatkan sebagai indikator kualitas lingkungan di kawasan urban.

Temuan ini disampaikan Afiatry dalam disertasinya yang berjudul “Studi Keanekaragaman dan Adaptasi Lumut Epifit pada Kawasan Urban Selatan Jakarta yang Berpotensi sebagai Indikator Kualitas Lingkungan”.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

Afiatry menunjukkan struktur komunitas, tingkat keanekaragaman, dan kemampuan adaptasi lumut epifit berkaitan erat dengan kondisi lingkungan perkotaan yang dipengaruhi polusi udara dan peningkatan suhu.

Berkat temuan tersebut, Afiatry secara resmi meraih gelar doktor dengan raihan IPK 3,88 dalam sidang promosi yang dihelat pada Kamis, 9 Juli 2026 di Aula Gedung Laboratorium Riset Multidisiplin Pertamina FMIPA UI, Kampus UI Depok.

Ia menyatakan lumut epifit merupakan lumut yang hidup menempel pada batang atau cabang pohon. Berbeda dengan tumbuhan parasit, lumut ini tidak mengambil nutrisi dari tanaman inangnya, melainkan dari udara dan air hujan. Karena itu, lumut epifit sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bioindikator.

“Lumut memang terlihat sederhana, tetapi keberadaannya dapat menjadi penanda kondisi lingkungan. Keanekaragaman lumut epifit dapat dimanfaatkan untuk memantau kualitas lingkungan di kawasan urban,” kata Afiatry.

Penelitian dilakukan di berbagai ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah selatan Jakarta dengan mengkaji hubungan struktur komunitas lumut epifit dengan faktor lingkungan, karakter adaptasi morfologi dan anatomi. Ini juga mengkaji respons molekuler melalui ekspresi gen heat shock protein 70 (hsp70) terhadap cekaman suhu.

Menurut Afiatry, kajian mengenai lumut sebagai bioindikator kualitas lingkungan masih terbatas di Indonesia, terutama yang menghubungkan aspek keanekaragaman, faktor lingkungan, dan mekanisme adaptasinya secara terpadu.

“Harapannya, penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan biomonitoring kualitas lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan ruang terbuka hijau yang lebih berkelanjutan di kawasan perkotaan,” ujarnya.

Temuan ini membuka peluang pemanfaatan lumut epifit sebagai indikator alami kualitas lingkungan di kawasan perkotaan. Dengan memantau keberadaan dan keanekaragaman lumut epifit, pemerintah maupun pengelola ruang terbuka hijau dapat memperoleh gambaran awal mengenai dampak polusi udara dan peningkatan suhu sehingga upaya pengelolaan lingkungan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.

Temuan ini menegaskan komitmen Universitas Indonesia dalam menghasilkan riset yang menjawab tantangan nyata di masyarakat. Melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi, UI terus berupaya menghadirkan solusi berbasis sains yang mendukung pembangunan berkelanjutan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.