• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Walhi Bongkar Klaim Swasembada dan Penurunan Harga Beras

Di Papua, pemerintah menargetkan sekitar 100.000 hektare pembukaan sawah baru.

by Admin
Jumat, 12 Juni 2026
A A
Walhi Bongkar Klaim Swasembada dan Penurunan Harga Beras

Kementerian Pertanian terus mengampanyekan swasembada pangan sebagai simbol keberhasilan pembangunan nasional. Namun di balik target ambisi pembukaan jutaan hektar lahan sawah baru melalui program food estate, tersimpan permasalahan yang lebih besar. Yakni pembangunan pangan yang fokus pada peningkatan produksi beras semata, sambil mengabaikan keinginan lingkungan dan perlindungan hak masyarakat lokal.

Ketika perluasan lahan dijadikan jalan utama menuju swasembada, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah Indonesia mampu memproduksi lebih banyak beras. Melainkan, siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang harus menanggung dampaknya.

BacaJuga

Kode Merah Orangutan Tapanuli: Dari Armenia Mendesak Penyelamatan Kera Besar Terlangka

Matahari Tepat di Atas Jawa, Ini Penyebab Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Diguyur Hujan

Musdalifah Jamal, Pengkampanye Ekosistem Esensial dan Pangan menyebutkan, di Papua misalnya, pemerintah menargetkan sekitar 100.000 hektare pembukaan sawah baru. Pendekatan ini mengabaikan kenyataan bahwa masyarakat setempat tidak bertumpu pada beras, melainkan sagu, umbi-umbian, dan pangan berbasis hutan.

“Ketika kebijakan memaksakan seragam, negara tidak hanya mengubah produksi pangan, tetapi juga mengubah sistem sosial, budaya, dan pengetahuan lokal,” kata dia dalam keterangan di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.

Ia mengatakan keberhasilan pembangunan pangan tidak dapat diukur hanya dari luas lahan, produksi beras, atau penurunan harga. Bagi masyarakat Papua, murahnya beras tidak menggantikan hilangnya sumber pangan lokal.

Kondisi ini, kata dia, sebagai bentuk pemaksaan budaya pangan yang menciptakan ketergantungan baru sekaligus meminggirkan peran masyarakat. “Terutama perempuan, yang secara kultural tidak berada dalam sistem produksi padi,” kata Musdalifah

Walhi dalam kajian cepatnya, melihat risiko serupa juga terlihat di wilayah lain. Di Sumba Tengah, NTT, lahan pertanian tradisional tengah dikembangkan menjadi food estate dengan program yang berfokus pada padi dan jagung dengan optimalisasi lahan kering melalui sumur bor. Namun kebutuhan udara tinggi di wilayah kering berpotensi memicu krisis udara jangka panjang.

Di Kalimantan Tengah, pengembangan padi di lahan rawa serta singkong dan jagung di Gunung Mas menunjukkan masalah kesesuaian lahan. Tanah podsolik yang asam menyebabkan tanaman tidak optimal hingga gagal panen. Pembukaan gambut di wilayah ini juga meningkatkan risiko kebakaran dan emisi karbon.

Sementara itu, berdasarkan catatan Walhi Sumatera Utara dan Serikat Petani Indonesia di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, terdapat food estate hortikultura dengan skema kemitraan korporasi. Proyek ini berpotensi menciptakan konflik agraria dan ketergantungan petani terhadap pasar.

Musdalifah mengatakan, alih fungsi lahan dalam skema ini kerap menyasar hutan, gambut, dan rawa yang sering dianggap “lahan kosong”. Padahal, kata dia, ekosistem ini memiliki fungsi ekologis vital yakni menyimpan udara, menjaga iklim, dan melestarikan keanekaragaman hayati.

“Kerusakannya akan meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran. Misalnya di Kalimantan Tengah yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan karena dilakukan pada kawasan yang secara historis merupakan pusat kebakaran gambut, yang pada akhirnya justru mengakhiri produksi pangan itu sendiri,” kata Musdalifah.

Selain itu, kata dia, proyek skala besar ini membuka potensi konflik agraria. Program masuknya ke wilayah adat tanpa izin yang berisiko menyingkirkan masyarakat dari ruang hidupnya.

Dalam beberapa kasus, ujar dia, petani juga semakin bergantung pada sistem produksi yang mengendalikan pihak eksternal. Pendekatan ini berpotensi menimbulkan krisis baru. Yaitu kerusakan ekologis, konflik sosial, dan hilangnya sistem pangan lokal yang adaptif. Ketahanan pangan tidak bisa dibangun dengan menghancurkan ekologis dan sosialnya sendiri.

Oleh karena itu, Musdalifah mendesak Kementerian Pertanian mengubah arah kebijakan dari perluasan lahan dan produksi beras semata, menuju penguatan pangan lokal, perlindungan hak masyarakat, dan keinginan lingkungan. Tanpa mendorong hal itu, Kementan hanya melakukan klaim dengan angka statistik.

“Kementan terus melakukan ekspansif terhadap kerusakan lingkungan, hutan dan ruang hidup orang adat, dengan pertaruhannya krisis di lapangan yang terus membesar,” kata Musdalifah.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.