Langsung ke konten
Prohealth.id — Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli
Lingkungan

BRIN Dorong Kolaborasi Riset dan Pengembangan Giant Sea Wall Pantura Jawa Tengah

Oleh Tim Prohealth

3 menit baca

BRIN Dorong Kolaborasi Riset dan Pengembangan Giant Sea Wall Pantura Jawa Tengah

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan material beton berbasis abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash), yang dikenal sebagai FABA, untuk mendukung pembangunan infrastruktur pesisir tahan korosi. Pengembangan material ini menjadi bagian dari upaya riset untuk menghadapi abrasi, penurunan muka tanah, dan banjir rob di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.

Pengembangan teknologi perlindungan pesisir tersebut dibahas dalam Webinar Nasional bertema Orkestrasi Kolaborasi Pengembangan Pantura Jawa Tengah: Satu Pantura, Banyak Karakter, Beragam Solusi, Satu Orkestrasi Kolaborasi pada Jumat (30/10).

Kepala Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Teguh Muttaqie, menjelaskan bahwa setiap wilayah Pantura memiliki karakteristik dan permasalahan pesisir yang berbeda. Karena itu, penanganannya memerlukan pendekatan terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan.

“Tema ini mengandung arti satu Pantura dengan karakter dan permasalahan pesisir masing-masing. Kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan solusi dari setiap permasalahan, baik dari segi tekno-ekonomi hingga dampak terhadap lingkungan hidup di sekitar Pantura,” ujar Teguh.

Menurutnya, kolaborasi antara lembaga riset, industri, dan pemerintah daerah diperlukan untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi masing-masing wilayah.

Salah satu teknologi yang dikaji untuk perlindungan pesisir adalah giant sea wall atau tanggul laut raksasa. Pengembangannya perlu mempertimbangkan kemampuan menahan gelombang dan banjir rob, kelayakan teknis, dampak lingkungan, serta keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat setempat.

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menekankan pentingnya riset kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, media, dan masyarakat. Menurutnya, pengembangan teknologi perlindungan pesisir harus disesuaikan dengan kondisi lokal setiap daerah.

“PRTH mendorong riset untuk menjawab permasalahan Pantura dengan solusi konkret. Fokus implementasi giant sea wall dilakukan dengan mempertimbangkan aspek tekno-ekonomi dan lingkungan, serta kesiapan wilayah percontohan seperti Desa Timbulsloko,” ungkap Cuk.

Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, disiapkan sebagai living laboratory atau laboratorium hidup untuk menguji teknologi perlindungan pesisir BRIN. Kepala Desa Timbulsloko, H. Nadhiri, mengungkapkan bahwa permukiman dan infrastruktur desa kerap rusak akibat tenggelam dan terendam air laut.

Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan struktur pelindung pantai hibrida berbasis alam serta jalan tahan korosi untuk menghadapi abrasi dan sedimentasi.

Sebagai bagian dari pengembangan teknologi infrastruktur pesisir, Perekayasa Ahli Muda PRTH BRIN, Ridwan Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa BRIN mengembangkan fondasi beton antikorosi untuk bangunan adaptif pesisir dengan memanfaatkan FABA dari limbah batu bara. Material ini memiliki kekuatan mekanik tinggi dan umur layanan 20–25 tahun.

Material beton berbasis FABA tersebut berpotensi digunakan untuk mendukung pembangunan tanggul laut raksasa dan infrastruktur pesisir lainnya. BRIN juga membuka peluang pengembangan bersama (co-development) dan replikasi teknologi dengan mitra industri serta pemerintah daerah untuk mendukung penerapannya di lapangan.

Pengembangan teknologi perlindungan pesisir ini juga mendapat dukungan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ). Deputi Bidang Pengelolaan Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur BOPPJ, Agus Adriyanto, menegaskan bahwa tanggul laut raksasa perlu dipandang sebagai solusi teknologi terpadu untuk melindungi aset nasional, merevitalisasi kawasan perkotaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Dari sisi industri, PT PLN (Persero) UIT TJB melalui MAN K3, Lingkungan dan Keamanan, Nandi Hidayat, menyambut baik kolaborasi pemanfaatan FABA dari PLTU Tanjung Jati B sebagai material beton geopolimer untuk tanggul laut.

Pemanfaatan limbah batu bara tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular dalam pengembangan infrastruktur pesisir. Kolaborasi riset, pemerintah, dan industri diharapkan dapat mendukung pengembangan teknologi perlindungan pesisir yang sesuai dengan karakteristik Pantura serta kebutuhan masyarakat setempat.

Bagikan artikel ini

Nawala

Kabar kesehatan yang bergizi, langsung ke email Anda

Rangkuman berita pilihan redaksi Prohealth.id: kesehatan publik, gizi, lingkungan, dan kebijakan yang memengaruhi hidup kita.

Prohealth.id bekerja berdasarkan Kode Etik Jurnalistik. Menemukan kekeliruan dalam berita ini? Sampaikan hak jawab atau koreksi Anda ke redaksi.